PARKIR TEROWONGAN. Sejak sekitar 2005, sebuah terowongan di daerah Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Selatan, disulap menjadi area parkir motor. Kegagalan apa yang tercermin dari fenomena ini? Ketidaksigapan para perancang gedung perkantoran dan perbelanjaan bergengsi di kawasan Segitiga Emas Jakarta ini untuk menyediakan tempat parkir bagi motor-motor yang selalu dinomorduakan? Atau kemandekan rencana pembangunan wilayah milik pembuat terowongan? Sampai kapan semua ini akan dibiarkan berlangsung? Irwan Ahmett | Juli 2010
|
|
FOKUS 6: HUMOR DI RUANG KOTA
Hidup di kota yang suntuk dan muluk, sesekali kecemasan perlu dilemaskan oleh humor. Dengan gagah berani, edisi ini memandang kelucuan kota dengan humor. Dari esai tentang perancang acara komedi di stasiun televisi, kelucuan seluruh layar kaca itu—tontonan yang bisa kita saksikan di ruang keluarga—bahasan esai lalu keluar ke jalanan, hingga apa yang direkam kembali kepada kita, untuk kita lihat di depan layar komputer.
Tak perlu mencari tayangan khusus humor di televisi jika ingin terpingkal-pingkal. Cukup menonton televisi Indonesia, maka segala yang aneh bin ajaib dijamin bisa membuat kita geli sendiri. Veven Sp. Wardhana, pengamat televisi, menggeledah keanehan-keanehan itu. Dari mulai film horor yang bisa-bisanya menjadi sinema reliji, kegilaan infotainmen, istilah-istilah aneh, sampai tayangan sinetron absurd dan iklan-iklan siluman yang suka menyamar tapi selalu ketahuan.
Seorang pelacur media menulis surat ini setelah ia diusir dari ruang rapat. Sebuah protes yang ditulis oleh ‘orang dalam’ pertelevisian, yang akan mengungkapkan kepada kita: mengapa televisi Indonesia yang belum kapok-kapok membuat program komedi, selalu gagal membuat kita tertawa.
Di kota yang panas, berjaket atau tidak berjaket kadang memusingkan, terutama bagi perempuan. Antara berpakaian tertutup lalu panas sendirian atau terbuka lalu panas ramai-ramai dari sejuta mata yang memandang. Nuraini Juliastuti menceritakan pengalaman dia dan Ani, temannya, tentang kebiasaan berjaket di Yogyakarta.
Jalanan bisa jadi satu-satunya tempat seorang anak kaya menabrak pejalan kaki papa, namun ia juga bisa jadi tempat seorang pebisnis mapan tersenyum pada petugas parkir miskin dan memberinya upah karena mencarikannya tempat parkir yang nyaman. Evi Mariani menuliskan pengalaman dan pandangannya tentang jalanan Jakarta yang sebenarnya penuh dengan kasih-sayang jika kita melihatnya dengan hati.
Sebuah blog SERASA merekam produk Indonesia yang memplesetkan merk terkenal luar negeri. Farid Rakun, dari balik layar komputernya, terus bertanya: apakah blog ini sungguh hendak berbagi kelucuan atau hanya sekadar menertawakan? Atau jarak—berupa layar komputer, bahkan negara—yang bukan langsung di jalanan tempat foto-foto itu diambil, yang membuat semua benci menjadi rindu, atau bahkan mencaci bisa menyamar jadi melucu?
FOKUS 5: KOMIK DAN KOTA
Bagaimana komik Indonesia merepresentasikan gejolak sosial kota? Sejauh apa representasi itu memiliki hubungan dengan kenyataan, mampu mencatat sejarah mental masyarakatnya, dan dengan cara apa para komikus mengatasi permasalahan medium komiknya sendiri untuk menghadirkan representasi tersebut? Dan mengapa sebagian besar komik selalu merujuk pada Jakarta? Edisi ini membahas hal-hal tersebut dan menyingkap fenomena serta permasalahan di baliknya.
Bila dikaitkan dengan relevansi atas zaman, terutama dalam konteks Jakarta, Benny dan Mice adalah kartunis terdepan Indonesia saat ini. Mereka ada karena kekacauan Jakarta dan menceritakan segala kekonyolan situasi hidup di ibukota itu. Di tangan penulis JJ Rizal, karya mereka selama satu dekade dibahas dari sudut pandang kekotaan secara mendalam, kritis, dan berimbang. Inilah esai paling bernas tentang karya Benny dan Mice sampai saat ini.
Jika kita ingin melihat bagaimana Jakarta pada awal 1960 hingga akhir 1970-an melalui komik, maka komik roman adalah satu-satunya genre yang setia berlatar kota metropolitan. Bergelimang cinta yang mendamba dan kota sebagai impian dalam komik roman, Hikmat Darmawan memaparkan sejumlah kesamaan pola dalam komik roman, dari kebiasaan membaca koran, interior, hingga gaya berbusana, yang tak hanya menunjukkan kenaifan, namun juga imajinasi atas kota.
Ada tiga kompilasi Senggol Jakarta yang disusun Akademi Samali, berisi berbagai komik dari para komikus muda saat ini. Arief Ash Shiddiq mengamati komik-komik ini dengan pertanyaan awal sederhana: Apakah ini Jakarta? Ketika kekerasan ditampilkan tanpa konsekuensi? Ketika jalanan ditampilkan hanya sebagai tempat? Berusaha mengelak dari situasi jalanan yang sebenarnya? Arief, dengan sangat keras mengkritik, namun juga tak berhenti berharap.
Siapa yang tak kenal Doyok? Sosok berblangkon dan bercelana tiga perempat yang selalu setia muncul di harian Pos Kota? Karakter komik ini sering berkomentar tentang masalah politik mutakhir dari sudut pandang orang kebanyakan. Doyok, sungguh maunya serius, dan bagaimana keseriusan itu mendapat bentuk, ternyata sungguh-sungguh menarik, sebagaimana bahasan Seno Gumira Ajidarma dalam esainya ini.
Pada 2004, enam panel kartun karya Muhammad Reza dipamerkan di enam halte Transjakarta yang saat itu baru beberapa bulan beroperasi di Jakarta—sebelum halte itu terpasang iklan, sebelum kepemilikan Transjakarta diperebutkan. ‘Sehijau’ kehadirannya, warga Jakarta mulai beradaptasi dengan “tradisi baru bertransportasi” ini, bersama segala tingkah-lakunya yang sebagian direkam oleh Reza melalui karyanya.
FOKUS 4: SINEMA DAN KOTA
Film, sebagai dokumentasi sosial-mental masyarakatnya, mau tidak mau akan menampilkan kota dalam ceritanya. Adakah permasalahan sosial dan ruang kota yang begitu kuat dalam film Indonesia? Tidak hanya menggunakan sebuah kota sebagai latar, hanya karena di sanalah film dibuat? Edisi ini menampilkan sejumlah tulisan mengenai itu, juga sebuah program pemutaran dan diskusi film.
Adakah Jakarta dalam film Indonesia kita? Apakah ia hanya menjadi lokasi,
atau menghidupkan film itu sendiri sebagai bagian tak terpisahkan dari konteks sosialnya? Eric Sasono membagi empat periode perjalanan film Indonesia sejak Orde Baru, melihat bagaimana Jakarta dihidupkan, menjadi inspirasi, atau dijual begitu saja sebagai eksotisme kelas menengah pembuat filmnya.
“Seperti juga kebanyakan film-film lain pasca 1998, film Mengejar Matahari datang hampir tanpa kritik terhadap visual ruang Orde Baru itu sendiri.” ujar Veronica Kusuma dalam esai ini, yang juga menanyakan apakah rumah susun sekadar menjadi latar cerita, atau juga menjadi area kritik dalam sebuah film yang terlanjur berlatarkan sosial ini.
Esai pertama yang membahas fenomena seni video dan media baru di Indonesia secara tajam. Ronny Agustinus tidak saja mengatakan bahwa selama ini kita mengalami modernitas tanpa rasionalitas. Namun juga memberi konteks penting yang sering diabaikan dalam mengkritik kehadiran seni media baru: sosial-politik; konteks yang ironisnya justru melandasi sejarah seni rupa Indonesia sejak awal.
Esai pertama yang membahas fenomena seni video dan media baru di Indonesia secara tajam. Ronny Agustinus tidak saja mengatakan bahwa selama ini kita mengalami modernitas tanpa rasionalitas. Namun juga memberi konteks penting yang sering diabaikan dalam mengkritik kehadiran seni media baru: sosial-politik; konteks yang ironisnya justru melandasi sejarah seni rupa Indonesia sejak awal.
FOKUS 3: TRANSPORTASI UMUM
Transportasi umum bukan saja masalah perkotaan yang tak pernah selesai. Namun juga representasi ketidakmampuan pemerintah dalam merawat perekonomian negara. Edisi ini membahas tentang becak, taksi, dan juga perilaku penumpang bus patas AC— yang menandakan, betapa persoalan transportasi umum masih harus menanggung beban lain: mengubah perilaku masyarakatnya sendiri.
Jika becak di Jakarta pernah diburu dan dibasmi demi indahnya pariwisata Indonesia, becak di Yogyakarta justru dilestarikan demi turis hingga sekarang. Yoshi Fajar Kresno Murti menuliskan secara rinci tentang keadaan becak di Yogyakarta, yang juga terpinggirkan karena tak selaras dengan perkembangan kotanya.
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa hanya di bus Patas AC di Jakarta, penumpangnya punya kesadaran lebih untuk duduk? Dan tentu saja, memilih dengan siapa mereka akan duduk. Ardi Yunanto menuliskan pengamatannya selama setahun tentang perilaku kolektif penumpang bus Patas AC dalam memilih tempat duduk. Tentang mereka, atau Anda, yang mungkin saja tak ingin duduk bersama.
Seberat apa penderitaan kita menghadapi macet jalanan daripada supir taksi? Kehidupan supir taksi justru ada di dalam kemacetan itu. Tak hanya itu, supir taksi juga melakukan pekerjaannya dengan suatu seni. Seno Gumira Ajidarma menuliskan pengamatannya yang tajam, dengan ironi, tentang kehidupan supir taksi yang sering terlihat, namun jarang kita perhatikan.
Andry Mochamad (1977-2008), seniman asal Bandung, pada 2001 membuat stiker yang didedikasikan pada supir angkutan umum yang baik hati. Jika Anda melihat stikernya tertempel di angkutan umum, maka Anda bisa merasa tenang, karena stiker itu hanya ditempelkan di angkutan umum yang bersupir ramah, tidak ugal-ugalan. Penanda bahwa Anda bisa selamat sampai di tujuan.
FOKUS 2: PERJALANAN
Edisi ini mengulas beberapa fenomena yang terjadi selama dalam perjalanan yang disebabkan oleh permasalahan infrastruktur kota. Dari mulai sistem transportasi, terbukanya akses Jakarta-Bandung, halte yang terbengkalai, bisnis tempat parkir, hingga karya seni tentang lubang jalanan.
Jakarta yang sangat terlambat menata sistem angkutan umum massalnya ini, akan macet total paling lama 10 tahun mendatang. Beberapa tahun lalu, sistem busway diterapkan, namun kekurangannya sampai saat ini masih berlangsung: sistem pengumpan dan lahan parkir. Bambang Susantono berpendapat bahwa kunci layanan transportasi adalah akses, bukan mobilitas kendaraan.
Sejak tol Cipularang dibuka pada 2005, mobilitas masyarakat Bandung-Jakarta berubah. Usaha travel menjamur, dan terlebih lagi, banyak ritual perjalanan Bandung-Jakarta yang juga berubah dan dimanfaatkan di sana-sini oleh berbagai pihak kapital. T. Ismail Reza, menuliskan pengalaman dan amatannya, bahwa mobilitas kini tak sekadar dorongan praktis untuk bergerak.
Anda sering melihat usaha parkir tak resmi di Jakarta? Atau rumah kecil di perkampungan tanpa garasi cukup dengan dua-tiga mobil berceceran sampai ke jalan? Mobilitas ternyata sudah menjadi kebutuhan utama. Anissa S. Febrina mengulas fenomena itu dari berbagai aspek sosial, bahwa masalah lahan parkir bukan sekadar masalah ruang kota, namun juga perilaku sosial dan sadar lingkungan.
Halte bus seharusnya ruang kota yang paling sebentar dialami. Namun bus di Jakarta selalu terlambat, juga macet, dan desain halte melupakan fasilitas penting sebagai bayaran atas itu: kebutuhan untuk duduk. Juga tak hirau bahwa halte berarti mengandung ‘komunitasnya’, yang walau tak selalu menyamankan, namun menghidupkan, sekaligus mengamankan situasi.
Pada April 2002, Handy Hermansyah melingkari lubang-lubang jalanan di Bandung dengan cat putih, agar masyarakat tidak mengulangi musibah dirinya: terjatuh dari motor. Agung Hujatnikajenong menuliskan kembali aksi performans ini, yang dianggapnya sebagai proyek seni publik yang berhasil.
FOKUS 1: RUMAH
Ini adalah edisi pertama dari jurnal Karbon yang mulai 2007 mengubah dirinya menjadi jurnal-online yang membahas permasalahan kota, budaya visual, dan seni rupa kontemporer yang lebih dipandang sebagai materi analisa demi melihat hubungannya dengan konteks sosial. Edisi pertama membahas permasalahan paling menahun dalam kehidupan kota: rumah, dari berbagai sudut pandangnya.
Benarkah rumah susun adalah solusi bagi permukiman kumuh? Memindahkan manusia yang bukan barang, perlu memperhatikan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya, serta melibatkan calon penghuni dalam proses perencanaan. Berdasarkan disertasinya yang ditulis kembali untuk jurnal-online Karbon, Darrundono memaparkan pandangannya.
Kota Legenda yang diresmikan pada 1996 silam di samping jalan tol Jakarta-Cikampek menawarkan gaya rumah beragam dan kitsch. Anda, kelas menengah, bisa memiliki rumah bergaya American Colonial atau Classical Eropa tanpa harus meninggalkan Indonesia sama sekali. Farabi Fakih menelurusi imajinasi kelas menengah ini berdasarkan penelitiannya dari berbagai iklan perumahan di media massa.
Sepanjang Oktober 2002 sampai April 2003, warga Tebet di Jakarta Selatan bisa dibilang beruntung karena pernah memiliki Lintas Tebet. Majalah komunitas ini membahas isu-isu yang terjadi di Tebet saat itu, dan mengangkat warga sebagai berita dan narasumber utama. Berikut adalah wawancara bersama Nugroho Nurdikiawan, salah satu mantan editor Lintas Tebet.
Pada 2003, ruangrupa mengadakan Apartment Project, sebuah proyek seni tentang rumah vertikal di Jakarta. Tujuh seniman dari Jakarta, Belanda, dan Jepang tinggal dan bekerja selama sebulan di dua ‘rumah’: Apartemen Taman Rasuna di Kuningan dan Rumah Susun Bendungan Hilir II di Pejompongan. Berikut adalah catatan Gustaff H. Iskandar, pelaksana proyek seni tersebut.
|
July 2010
Ifan Adriansyah Ismail
|
|
July 2010
Hera Diani
Barack Obama adalah tokoh yang mengundang banyak kontroversi, terutama bagi Jakarta, kota di mana ia sempat menghabiskan sebagian masa kecilnya. Sejarah singkat itu sempat diabadikan melalui sebuah patung Obama cilik yang kemudian ditentang banyak pihak. Apa yang sebenarnya terekam oleh keributan ini? Politik global lawan nasionalisme? Cita-cita monumentalisme bertubrukan dengan inferioritas? Hera Diani membahasnya untuk Anda. |
June 2010
JJ Rizal
Sejarah dalam diorama Monas adalah hasil rekayasa politik Orde Baru. Sementara selama puluhan tahun, jutaan pengunjung, termasuk anak-anak dari seluruh penjuru tanah air Indonesia yang diwajibkan melalui program sekolah, telah dan masih menyaksikan bualan sejarah Indonesia yang sangat militeristik itu. Sejarawan JJ Rizal membahas bagaimana dan mengapa penyelewengan sejarah dalam diorama itu dapat terjadi. |
-
February 2010Ardi Yunanto
|
PENERBITAN KARTU POS
July 2009
|













