FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 1 | Maret 2007
Rumah 'Indonesia Indah'
Farabi Fakih
12 Maret 2007


PERESMIAN PERUMAHAN Kota Legenda di samping jalan tol Jakarta-Cikampek pada 1996, boleh jadi merupakan salah satu penanda era baru dalam imajinasi Indonesia. Kota Legenda adalah perumahan “jalan-jalan” pertama Indonesia. Gaya rumah yang ditawarkan beragam dan kitsch: anda bisa membeli rumah bergaya American Colonial, Classical Eropa ataupun Jepang. Ini yang dijanjikan: dunia dalam genggaman tanpa harus meninggalkan Indonesia sama sekali. Tetapi ini juga yang diinginkan oleh kelas menengah Jakarta sebagai akibat dari pergeseran-pergeseran yang dialami Indonesia dan kelas menengahnya sejak 1985, yang mengakibatkan sebuah fragmentasi imajinasi identitas baru, yang pada gilirannya akan memengaruhi pula imajinasi akan Indonesia itu sendiri.

Imajinasi adalah fondasi utama penciptaan masyarakat,[1] khususnya masyarakat yang melampaui kelokalitasan atau melampaui kota, desa, atau komunitas tempat dia tinggal. Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa telah diciptakan sebagai akibat dari perubahan-perubahan teknologis yang menggampangkan orang untuk berimajinasi bahwa dirinya adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Seiring dengan perubahan teknologi komunikasi dan transportasi, pada sebuah ledakan bentuk-bentuk masyarakat imajiner baru, bisa terjadi apa yang disebut Arjun Appadurai sebagai “pencabutan imajinasi dari ranah ruang”.

Imajinasi model baru ini bersifat translokal dan deteritorial; imajinasi seseorang di zaman sekarang yang sering tidak dapat dipetakan berdasarkan entitas lokal manapun; identitas seorang imigran dari Uganda dengan etnis India di Amerika Serikat yang menonton film Hindi, identitas seorang anak pesantren dari Garut yang mendengarkan kaset-kaset khotbah Osama bin Laden dari Afganistan dan membayangkan sebuah masyarakat Islam internasional: dia itu siapa? Pertanyaan selanjutnya: Apa dan siapakah orang Indonesia itu? Ketika imajinasi pascamodern dan pascakolonial itu meninggalkan sama sekali negara-bangsa; bagaimana kita harus memahami “Indonesia”? Setidaknya, bagaimana kita harus memahami Indonesia seperti yang telah dikonstruksi oleh negara Orde Baru itu sendiri? Bagaimana bentuk dari imajinasi itu sendiri dan apa yang mendorongnya?


Orde Baru dan imajinasinya akan Indonesia
Berbeda dengan Soekarno yang begitu jelas perencanaan nation-building-nya, yaitu melalui pembangunan proyek-proyek fisik yang bombastis di kota Jakarta, slogan revolusi Soeharto adalah Pembangunan. Sebuah slogan yang menyiratkan rasa rendah diri dan kesederhanaan. Pembangunan Soeharto tidak sedang memengaruhi skyline Jakarta, ataupun cara orang memandang kota, tapi mengubah hal-hal yang ada di dekat orang itu sendiri. Soeharto tidak bertujuan menciptakan manusia revolusioner yang kritis, melainkan menciptakan manusia Indonesia seutuhnya yang disiplin dan patuh.

Orde Baru tidak melakukan nation-building melalui bentuk visual yang mahabesar, tapi melalui imaji-imaji yang terus-menerus diproduksi dan direproduksi pada tingkat yang terperinci dan banyak. Negara terus-menerus hadir di tingkat yang paling intim; ketika berjalan pagi dan melewati gapura 17 Agustus-an,[2] ketika pergi ke pasar dan ada patung polisi di perempatan, ketika pergi ke sekolah dan melihat peta Indonesia dari semen yang terpampang di dinding.

Menurut James Siegel, kata ‘rakjat’ yang digunakan oleh Soekarno dalam pidato-pidatonya merupakan sesuatu yang mengaitkan imajinasi orang pada sebuah imajinasi besar negara-bangsa Indonesia.[3] Kata ‘rakjat’ digunakan untuk menyampaikan ide akan bangsa. Setelah jatuhnya Soekarno, rakyat Indonesia menjadi ‘hantu’ dan hanya muncul dalam bentuk-bentuk ekstrem seperti ‘komunis’ dan ‘penjahat’. Tapi saya kira; ide akan bangsa Soeharto diganti melalui idenya akan manusia Indonesia seutuhnya; dan negara diejawantahkan dalam bentuk-bentuk perekayasaan terhadap lanskap wilayah negara itu sendiri. Baik melalui bentuk-bentuk kehadiran institusi negara; pos polisi, kantor pos, gedung kecamatan, maupun melalui bentuk-bentuk imaji lain serta ritual negara seperti acara 17 Agustus-an, lomba hari Kartini, dan seterusnya. Bandar Udara Soekarno-Hatta, Taman Mini Indonesia Indah, ataupun Kampus Universitas Indonesia dibangun atas ide “tradisionalisme” Orde Baru dan usahanya menggali esensi Indonesia (atau setidaknya esensi Jawa),[4] menggambarkan puncak-puncak dari usaha Orde Baru dalam proyek imajinasi negara bangsanya. Tetapi inilah mengapa paruh kedua tahun 1980-an menjadi amat penting. Pengunjung terbesar dari monumen-monumen Orde Baru; baik itu TMII, Monumen Yogya Kembali, Lubang Buaya adalah orang-orang dari kampung dan desa. Buat kelas menengah, daripada ke TMII, mereka lebih suka ke mal; mungkin hanya karena mal punya AC dan kulit harus dilindungi dari kejahatan sinar matahari, mungkin juga karena imajinasi Orde Baru awal itu sudah usang bagi mereka.

Munculnya real estat dan pergeseran Orde Baru akhir
Tahun 1980-an merupakan masa yang sangat besar perubahannya. Bukan saja karena menandakan puncak dari Orde Baru tetapi juga awal dari kemunculan kelas menengah baru. Setelah 1985, melalui program deregulasi bertahap; muncul investasi asing dan perusahaan multinasional yang tidak hanya bergerak di bidang-bidang ekstraktif. Terjadi pergeseran yang cukup nyata di Indonesia sebagai akibat dari hilangnya pengaruh boom minyak dan perubahan strategi perekonomian Indonesia, khususnya setelah 1986. Sebagai akibat dari cepatnya pertumbuhan ekonomi, dan menguatnya sektor-sektor perusahaan swasta dan asing yang menghasilkan kelompok orang yang tidak sepenuhnya bergantung pada negara, muncullah orang-orang kelas menengah baru Indonesia.

Di tahun-tahun awal 1990-an, kelas menengah selalu dilihat secara ambivalen. Ada yang menyanjung mereka sebagai kekuatan yang mendorong demokrasi di Indonesia, juga sebagai kelas komprador yang tidak punya nyali atau kepedulian untuk berperan dalam perubahan apapun. Menurut saya, kekuatan kelas menengah justru ada pada kekuatan konsumtifnya. Melalui konsumsi, mereka dapat ‘menentukan’; semua pihak yang penting saling berperan dalam menciptakan bentuk-bentuk baru dari kota dan bagaimana orang membayangkan dirinya.

Masa pasca-kejatuhan Orde Baru menyebabkan hilangnya negara di ruang kota Jakarta untuk sesaat melalui kerusuhan-kerusuhan mengakibatkan trauma yang dalam di kalangan kelas menengah Jakarta; baik yang Tionghoa dan golongan lainnya. Pergeseran dari Orde Baru ke masa Reformasi pertama melemahkan kekuatan negara dan, untuk sesaat, kelas menengah Indonesia. Melewati reformasi, tampaknya kelas menengah Indonesia menjadi makin kuat; ekspresi mereka terwujud dalam ledakan kebudayaan pasca-Orde Baru yang mengagumkan, baik di bidang sastra, film, ataupun wacana.

Melihat beberapa iklan perumahan di indonesia dalam kurun waktu 1970-an sampai 2000-an, khususnya dari koran Kompas dan Tempo, dua media utama kaum ‘kelas menengah’ Indonesia, serta majalah-majalah properti, dapat memberikan ide-ide yang lebih segar untuk memahami pergeseran imajinasi negara bangsa dan bagaimana orang memahami rumah itu sendiri; bukan sebagai tempat fisik, melainkan sebagai sebuah ide akan tempat tinggal dalam imajinasi identitas yang lebih luas.


Keluarga Orde Baru, eksekutif muda dalam iklan
Iklan Pondok Indah di Kompas pada 1976 berkata, "Di sana rumahku... di tengah kehijauan alam indah... di Pondok Indah". Sementara iklan Bintaro Jaya pada 1980 berkibar dengan "Hidup nyaman di alam segar". Alam, kehijauan, dan keasrian merupakan nilai utama perumahan kelas menengah sebelum 1986.

Alam adalah idealisasi dari pemukim kelas menengah perkotaan Jakarta. Sebuah alam yang aman dan teratur, sesuatu yang sebenarnya tidak alamiah karena dirancang sedemikian rupa. Selain itu, perumahan yang bagus adalah yang bisa menghindari kekacauan kota Jakarta, walau saat itu kepadatan kota Jakarta belum melampaui enam juta orang, jalan tol baru selesai pada 1978 dan tidak banyak berpengaruh terhadap tata lokasi perumahan, dan tampaknya keamanan bukan, atau belum, menjadi alasan utama orang membeli rumah.

Iklan lain dari Taman Alfa Indah menawarkan "… pemukiman yang nyaman, bebas dari polusi udara, kebisingan kota dan bahaya banjir". Persoalan-persoalan dasar yang selalu menghantui kota Jakarta; seperti masalah polusi, bising, dan banjir menjadi pemikat utama. Adanya fasilitas seperti air PAM dan jalanan aspal mulus menjadi indikator kebaikan perumahan. Terlihat bahwa konsep rumah pada zaman ini amatlah sederhana pula: tempat penghuni menghindarkan diri dari terjangan keburukan kota Jakarta, tempat di mana fasilitas dapat menyediakan jawaban terhadap keburukan itu.

Kemunculan kelas menengah, sebagai sebuah identitas yang agak otonom dalam wacana Indonesia, baru mulai tampak ketika perumahan-perumahan itu mulai dibangun untuk pasar pekerja baru berkerah putih dan bekerja di menara-menara perkantoran yang mulai bermunculan di pusat kota Jakarta pada akhir 1980-an. Iklan perumahan menampilkan nilai-nilai baru yang diemban oleh Orde Baru: mengenai investasi dan masa depan keuangan, serta keluarga asri dan efisiensi.

Masa akhir 1980-an, dalam beberapa hal, adalah dari perubahan Orde Baru. Iklan keramik pertama kali muncul di Tempo pada 1990, menampilkan sebuah gambar kamar mandi apik yang menggunakan keramik warna beige di lantai dan dindingnya. Merek KIA itu memiliki logo: Indonesia Ceramics. Siapa yang sangka bahwa setelahnya tidak ada lagi yang akan menggunakan Teraso atau Tegel biasa; siapa yang sangka pula bahwa hampir seluruh bangunan di Indonesia akan mirip dengan kamar mandi itu: menggunakan keramik di lantai dan bahkan dinding. Kemunculan keramik berbarengan dengan kemunculan mal; dan tidak tanggung-tanggung, salah satu mall pertama Indonesia adalah Plaza Indonesia, yang bersamaan dengan Hyatt Hotel merupakan salah satu proyek gedung-mega pertama Jakarta dan dalam prosesnya mengusir dua kedutaan besar dari kawasan itu (Rusia dan Australia). Mal super mewah untuk eksekutif muda yang juga bisa supermewah (atau setidaknya berlagak demikian). Bangunan berkeramik, ber-AC yang bersih dan bau artifisial, lampu neon, dan plastik merupakan ciri-ciri dari pergeseran ini.

Kemunculan kelas menengah menimbulkan beragam reaksi. Film Catatan si Boy yang menjadi hits adalah sebuah kompromi terhadap nilai-nilai kekeluargaan Orde Baru dan “kebobrokan” kelas baru ini. Si Boy adalah orang kelas atas yang Pancasilais; tampan dan pintar, dikelilingi oleh penggemarnya (baik cewek maupun cowok), saleh, cinta tanpa seks, minum tanpa alkohol, dan bahkan jago berkelahi. Si Boy adalah eksekutif muda. Berbeda dengan si Boy, kebobrokan eksekutif muda dan kelas menengahnya itu menjadi wacana masyarakat Orde Baru yang merasa terdorong untuk menciptakan sebuah Timur yang sempurna. Gengsi adalah kesalahan dari kelas menengah, kaum eksekutif muda, si Boy-si Boy baru yang gagal memenuhi persyarakatan kesempurnaan prototip cowok Orde Baru itu. Gengsi itu bisa menjadi hal yang positif, jika saja ada kemauan politik dari pemerintah untuk menyalurkannya; untuk melakukan rekayasa sosial.

Lebih parah lagi, kelas menengah ini tidak hanya penuh gengsi melainkan juga tamak: pandangan terhadap rumah sedang bergeser. Sebuah iklan untuk perumahan Kosambi Baru menampilkan rumah yang saling bertengger, dengan rumah di atasnya menjadi lebih besar daripada yang di bawah. Rumah adalah ajang investasi. Di iklan lain, rumah bahkan hilang sama sekali, yang terlihat hanyalah dua batang emas yang menancap di tanah. Rumah adalah batangan emas yang akan terus-menerus menghasilkan.

Karena rumah telah menjadi lokus investasi, di mana impian akan keluarga sempurna dikontekskan, maka keamanan akan rumah menjadi sentral. Sebagian besar iklan perumahan mencantumkan faktor keamanan sebagai alasan untuk memilihnya. Rumah Melati Point dalam iklannya adalah "Perumahan yang menjaga keamanan keluarga anda dengan kenyamanan sebuah apartemen". Bahkan dijabarkan lebih lanjut menjadi empat poin akan keamanan: (1) Pengamanan 24 jam oleh petugas keamanan (dengan gambar seorang satpam yang sedang berdiri tegak), (2) Identifikasi di depan gerbang, (3) Gerbang tunggal sebagai akses ke perumahan, (4) Komunikasi airphone dari tiap rumah ke pos jaga.

Perumahan juga erat kaitannya dengan jalan tol. Kota Jakarta adalah kota dengan jalan tol. Perumahan diukur dari seberapa dekatnya dia dengan jalan tol. Perumahan-perumahan baru, khususnya jenis kota-kota kecil atau perumahan-perumahan mega yang juga muncul di saat ini (Bumi Serpong Damai pada 1989, Lippo Karawaci pada 1992, sebagai contoh), dibangun berdasarkan garis tol yang ada. Di situ ada tol, maka di situ pula ada perumahan. Bekerja di kantor, sang ayah muda tentu tidak ingin tua di jalan, "Bahkan sesudahnya anda masih sempat bercanda dengan si kecil sebelum pergi ke kantor", menurut sebuah iklan, si Kecil bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan sang ayah yang telah menjadi eksekutif muda dan harus bekerja di kantor di tengah kota. Yang disediakan perumahan adalah gaya hidup; gengsi besar menjadi orang kota yang harus punya waktu buat si kecil. Alam dan keasrian lingkungan tergeser dari kebutuhan-kebutuhan baru akan sebuah gaya hidup yang sebelumnya hampir tidak ada. Dari atas tol, kota Jakarta akan menghilang. Tol merupakan salah satu wilayah-wilayah tertentu di mana seseorang benar-benar merasa seperti tidak ada di mana-mana; dia bisa saja ada di Indonesia, tetapi bisa pula sebenarnya ada di Amerika.

Di puncak perekonomian Orde Baru, kelas menengah baru ini telah menciptakan atau diciptakan (setidaknya membeli) ruang-ruang baru guna menunjang sebuah gaya hidup, yang seringkali disebut penuh gengsi, tetapi mungkin pula merupakan konsekuensi logis darinya. Tempat favorit untuk melewatkan kepenatan satu minggu bekerja adalah berjalan di mal, menghindari sebisa mungkin polusi Jakarta dan matahari. Kota Jakarta itu sendiri dibangun untuk mereka; jalanan adalah tempat untuk mengendarai mobil, bukan untuk berjalan kaki. Mereka adalah kaum yang percaya diri. Menggendong si kecil dengan sang istri melihat dengan mata penuh kebanggaan, si Boy kita hidup dalam sebuah negara macan Asia; bagian dari the Asian Miracle. Di atas fondasi ini; perumahan sering ditawarkan kepada impian-impian Indonesia ini; memiliki rumah yang asri dan hijau, dengan segala fasilitas untuk keluarga dengan hanya dua orang anak dan pekerjaan kerah putih.

Iklan perumahan Kemang River View menggambarkan perubahan wacana “manusia Indonesia”, atau setidaknya, manusia Jakarta baru yang muncul di akhir-akhir Orde Baru itu. Bercerita mengenai seorang eksekutif muda yang sedang berbicara kepada calon mertuanya, kesepakatan menikah mereka disetujui karena sang calon pandai dalam memilih rumah untuk investasi. Pandangan patrimonial ayahnya (karena calon istrinya hanya ada di sana untuk senyum dan mengangguk-angguk, sementara Ayahnya menjadi penentu segala kebijakan) serta kemantapan sang calon dalam menentukan perumahan ideal yang cocok bagi dia, seorang manajer pemula didasarkan atas pandangan-pandangan tradisional akan perumahan yang bagus (asri, dengan lingkungan menyenangkan dan air jernih) dan pandangan baru pula (sebagai aset, sebagai investasi jangka panjang). Penting pula bahwa perumahan ini adalah perumahan dengan sistem tumbuh sehingga bisa diperluas seiring dengan penambahan jumlah anak, tentu harapannya adalah anaknya tidak melebihi dua orang.

Langsung tergambar dengan jelas siapa sang calon itu; dengan segala pretensi moralitas akan keluarga yang baik, sungkem ke ayah yang keras tetapi penuh pengertian, berpikiran ke depan dengan percaya diri bahwa anaknya kelak akan diuntungkan karena investasinya; karena harga properti belum crash di masa-masa krisis, atau dia belum mengetahui bahwa dia bisa menjadi manajer yang dipecat pada saat krisis tiba. Tetapi bagaimana mungkin? Saat itu adalah zaman pembangunan, yang memandang masa depan dengan cerah seperti ciri kuat wacana ke-Indonesiaan yang dibangun Orde Baru. Tidak terpikirkan oleh siapapun bahwa Indonesia akan tidak membangun; bahwa Indonesia tidak akan tinggal landas.


Perumahan pasca-Orde Baru
Jakarta jatuh dalam kerusuhan sosial yang meluas dan mengerikan pada 20 Mei 1998. Sehari setelahnya, Presiden Soeharto mengundurkan diri, dan Indonesia, secara lamban, perlahan dan pasti, memasuki dunia pasca-Orde Baru. Ini adalah dunia di mana bentuk-bentuk baku tidak (atau masih belum) ada, di mana negosiasi antara berbagai elemen di dalam negara Indonesia terus-menerus berlangsung, sehingga timbul keberagaman yang amat menakjubkan. Golongan-golongan yang jarang muncul dalam imaji wacana Indonesia malah bergelora dalam bentuk-bentuk yang kadang paradoksal dan aneh; munculnya Islam garis keras, orang-orang homoseksual, orang-orang Tionghoa, orang-orang ekspatriat atau bule, serta jenis-jenis orang yang tinggal dan kerja melebihi batas-batas negara (TKI/W, pelajar, pekerja kerah putih). Sebuah kolase manusia Indonesia yang melebar melebihi petani baik budi dan eksekutif muda si Boy.

Jelas bahwa beragam identitas manusia itu sudah ada sejak bahkan sebelum Orde Baru, tetapi jelas pula bahwa mereka, pertama, tidak diberi tempat dalam wacana manusia Indonesia Orde Baru dan, kedua, bahwa dari segi kuantitas, ada peningkatan yang menjadikan keberadaannya diketahui dan diwacanakan. Yang terjadi adalah pergeseran paradigma yang bisa terlihat dalam iklan-iklan perumahan maupun dalam hampir segala bidang penciptaan kebudayaan kelas menengah; dari novel-novel baru yang ditulis, film-film baru yang dibuat dan majalah-majalah baru yang diterbitkan. Kelas menengah baru itu bukanlah entitas monolitik, melainkan terpisah-pisah secara saling-silang dalam bentuk-bentuk imajinasi translokal yang beragam. Dari orang Tionghoa yang suka mendengarkan Pop Taiwan, sekolah di Australia, berlibur di Singapura, dan memiliki saudara di Hong Kong; dari orang Jawa yang bekerja di perusahaan multinasional yang suka mendengarkan ceramah-ceramah keislaman ulama “Islam Internasional”, membaca novel pop muslimah, dan mengikuti rally PKS yang memprotes kebijakan Amerika Serikat; dari orang Sunda yang liberal dan merasa ter-Barat-kan, “tercerahkan” dari kekangan seksual melalui pemahaman bentuk-bentuk estetis dan moral yang dipelajari dari layar-layar serial Amerika dan halaman-halaman majalah glossy. Walau begitu ini adalah kelas yang fragmenter dan saling-silang; mereka mengonsumsi budaya pop yang sama, melewati jalan-jalan Jakarta dan kemacetannya setiap hari secara sama pula dengan segala ketakutannya terhadap matahari dan kampung. Bukan orang Indonesia dan bukan pula orang “asing”. Di antara inilah imajinasi baru Indonesia harus dipahami; di sinilah ruang-ruang negosiasi baru diciptakan bagi sebuah negara pasca Orde Baru.

Di zaman pasca-Orde Baru, kita melihat ledakan penggunaan gaya-gaya Spanyol-an (yang awalnya muncul pada masa Orde Baru) dalam jumlah yang cukup signifikan. Sebuah iklan untuk cluster baru di perumahan Kota Wisata di Cibubur, menampilkan sebuah rumah gaya “Victorian” dengan nama Windsor Mansion, yang menawarkan paduan sempurna guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam bentuk-bentuk yang impresif dan gaya Viktorian yang khas, khasil dan ekslusif, yang terlihat pada detail-detail bangunannya.

Windsor Mansion adalah "Simbol cita rasa ekslusif kaum bangsawan Inggris", tidak peduli bahwa tidak ada satupun bangsawan Inggris yang tinggal, atau, setahu saya, pernah menginjakkan kaki di rumah-rumah gaya Victoria dalam perumahan tropis kota Jakarta itu. Sebuah gambar cat air (sangat khas abad ke-19?) menggambarkan salah satu rumah yang ditawarkan, dengan warna pastel yang tidak harmonis dan dinding bata cetak. Cerobong asap (buat masak?), turret gaya Victorian, dan ke-asimetris-an yang mengerikan. Windsor tentunya adalah nama yang di-Inggris-kan dari keluarga kerajaan Inggris yang dulunya bernama Saxe-Coburg-Gotha, sebuah nama yang diubah menjelang Perang Dunia Pertama, karena, tentunya, jika Inggris sedang berperang melawan Jerman, ratunya sebaiknya tidak memiliki nama Jerman. Keluarga Kerajaan Inggris tentu tidak tinggal di Mansion, karena mereka tinggal di Istana. Amat menarik jika dipikirkan; bahwa nama keluarga kerajaan yang diubah seiring dengan meningkatnya nasionalisme Eropa awal abad ke-20 menjadi nama perumahan dari bangsa yang tampaknya tidak tahu di mana harus menempatkan nasionalismenya sendiri. Windsor ini adalah salah satu cluster dari beragam cluster di Kota Wisata, di antara cluster Amsterdam atau Paris atau Maroko.

Kesan elegan dan ekslusifitas adalah pendorong utama dari iklan ini: tempat bagi bangsawan tentunya tidak bisa dihuni oleh siapa saja. Elegan dan ekslusifitas pula yang mendorong perubahan pada gaya-gaya apartemen dan perumahan yang menjamur di Jakarta pasca-Orde Baru. Iklan untuk perumahan Kota Bunga, Puncak, mengarah pada ide bahwa tema rumah menjadi keharusan di zaman ini. Iklan itu menampilkan peluncuran perdana rumah-rumah bertema Vila Praha. Menampilkan bentuk-bentuk rumah yang, sepengetahuan saya, tidak pernah terlihat di kota Praha ataupun menjadi kekhasan manapun di seluruh Eropa Timur. Iklan tersebut berbunyi: ‘Menghadirkan Eksotisme arsitektur Eropa Timur di Kota Bunga Puncak’. Ada orang-orang Eropa sedang menari di iklan; dua orang sedang menari tarian Flamenco dari Spanyol, perempuan berpakaian tradisional (mungkin Hongaria? Tapi bisa juga mirip dengan Jerman). Yang terbayang pertama di benak saya ketika mengingat arsitektur rumah Eropa Timur adalah apartemen dan flat masal komunis pada tahun-tahun 1960-1980-an. Flamenco jelas-jelas tidak berasal dari Eropa Timur dan bukankah seharusnya “eksotisisme” bukannya “eksotisme”? Agak sulit untuk menarik kata eksotis dengan Eropa Timur, mungkin pula karena definisi dan imaji akan keeksotisan selama ini dipengaruhi oleh pandangan-pandangan dari Barat dan Hollywood. Tetapi juga menarik bahwa, walaupun Eropa Timur tidak banyak dianggap eksotis oleh ikonografi imaji Barat (paling-paling eksotis dalam pengertian sebagai tempat berasalnya Drakula di daerah pegunungan Carpathia di negara yang sekarang bernama Rumania), hal itu tidak menghentikan pengembang untuk menggunakan Eropa Timur sebagai sebuah strategi pemasaran untuk tema “eksotis”. Ini bisa dianggap sebagai bagian dari glokalisasi; sebuah proses di mana imaji-imaji global (yang seringnya merupakan saluran satu arah dari Barat ke yang lain-lain), diambil alih oleh lokal dan dibalik melalui logika lokalitas yang dimilikinya.

Perumahan Bumi Serpong Damai mengeluarkan cluster terbarunya yang diberi nama de Latinos. Salah satu nama rumahnya adalah Flamenggo; ini agak sulit untuk dimengerti. Pertama karena de Latinos secara tata bahasa tidak benar dalam bahasa Spanyol, kedua karena Flamenggo bukan sebuah kata. Ada Flaminggo, yang merupakan burung berwarna merah muda yang suka berkumpul di rawa-rawa dan memang menjadi sesuatu yang khas Latin, sementara itu ada pula tarian Flamenco, tarian nasional Spanyol yang indah. Latin, tentunya bukan negara manapun, melainkan menggambarkan sebuah wilayah luas yang memiliki keberagaman budaya yang amat luas. Flamenco tidak berasal dari daerah Latin, melankan berasal dari daerah Eropa Selatan. Kenapa pula tidak memakai, sebagai contoh, Tango, tarian nasional Argentina, atau Capoeira, olah raga bela diri Brasil? Keberagaman daerah ini tentu sangat besar; dari Cile dan Argentina yang beriklim Mediterania, bermayoritas kulit putih dan berbahasa Spanyol, Brasil yang lebih tropis, dengan penduduk multikultur dan berbahasa Portugis dialek Brasil, Bolivia yang dua pertiga penduduknya adalah orang pribumi (indian), tinggal di pegunungan tinggi dan memiliki kebudayaan pra-Kolombia yang tinggi, dan seterusnya.

De Latinos, sama seperti Vila Praha dan Windsor Mansion menampilkan varian tertentu dari ekslusifitas, eksotisisme, dan ke-eleganan. Semuanya menampilkan hal-hal yang tidak dijangkau oleh orang lain, tidak peduli bahwa selera estetisnya kemungkinan tidak bisa dijangkau pula oleh orang Inggris (bangsawan sekalipun), Praha ataupun Rio de Janeiro. Iklan Windsor Mansion merupakan iklan yang cukup panjang, tetapi selain daripada referensi bahwa bangsawan Inggris itu ekslusif dan elegan, tidak banyak yang bisa diketahui mengenai mengapa ia berhak disebut sebagai rumah dan perumahan Victorian. Sejarah dan latar belakang menjadi hilang, yang ada hanyalah kolase kitsch, sebuah strategi pemasaran yang mempermainkan simbolisasi masyarakat Jakarta pasca-Orde Baru. Sebuah simbolisasi ekslusif yang dimainkan melalui perjalanan keliling dunia, melalui produksi (karena jelas bukan reproduksi) dari imaji-imaji global yang sifatnya sangat lokal. Tidak ada satupun dari rumah, gaya ataupun iklannya yang menjelaskan mengapa rumah gaya itu pantas dimiliki. Rumah-rumah itu akan selalu menjadi rumah Indonesia karena yang dijual bukanlah rumah Victoria Inggris atau rumah tradisional Eropa Timur, Cina, Jepang atau Brasil. Melainkan sebuah imajinasi baru yang memungkinkan orang Jakarta membayangkan dirinya menjadi bagian dari dunia global yang baru; setelah dunia lama mereka, Orde Baru, hancur berkeping-keping.

Tampaknya, bentuk-bentuk ikonografi yang menjadi bagian dari serial gaya perumahan ini ditangkap melalui pusat-pusat penciptaan imaji global. Ini menjelaskan mengapa, sebagai contoh, tidak ada rumah yang bergaya Afrika Sub-Sahara atau Mongolia ataupun Fiji. Imaji-imaji ini adalah imaji yang telah diglobalkan melalui mesin imaji global yang, sampai tahap tertentu, masih dikendalikan dari pusat-pusat budaya negara-negara utara yang maju dan kaya. Kenyataan ini juga muncul dalam paradoks yang amat aneh dengan munculnya gaya Bali sebagai salah satu gaya perumahan kontemporer yang amat disukai. Bali di sini adalah Bali yang telah diolah oleh wacana global tadi, sebuah Bali yang telah diambil oleh turis-turis, seniman dan pebisnis asing. Tertarik oleh ke-eksotis-an Bali (tetapi tentunya tidak begitu eksotis menurut, sebagai contoh, tetangga Jawa-nya), mereka telah menciptakan sebuah ide akan Bali yang hibrid dan internasional. Sehingga gaya itu diperbolehkan menjadi bagian dari ikonografi perumahan baru; Bali telah diambil-alih dua kali disini: pertama oleh orang asing yang datang karena keeksotisannya, kedua, oleh orang kelas menengah Jakarta yang menganggapnya eksotis karena orang asing menganggapnya demikian. Maka muncul pula fenomena aneh itu: mengenai orang Jakarta yang berlibur di pantai Kuta dan merasa dirinya berada dalam dunia eksotis, memakai kaca mata hitam dan berjalan di pantai, tetapi tentu tidak bermandi matahari karena akan menghitamkan kulit.

Perjalanan keliling dunia ini menjadi obsesi arsitektural baru di Jakarta. Sebuah mal yang dibangun di bilangan Kelapa Gading bahkan menawarkan tujuh macam atrium untuk dinikmati berdasarkan tipe peradabannya: ada atrium Nusantara, Cina, Persia, Prancis, Italia, Jepang dan Milenium. Ini adalah "Mal pertama yang menghadirkan 7 pesona dunia dalam Mal", dengan iklan yang menampilkan seorang pendeta Shaolin sedang memperagakan keahlian Wushu-nya, karena Cina adalah salah satu dari tujuh pesona dunia yang ditampilkan, juga karena sebagian penduduk kelas menengah di daerah Kelapa Gading adalah orang Tionghoa. Atribut-atribut ke-Cina-an menjadi bagian yang penting dalam pemasaran perumahan. Ini dikarenakan orang Tionghoa merupakan pangsa pasar yang cukup besar bagi penjualan perumahan, tetapi ini menandakan pergeseran yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan masa-masa Orde Baru. Hilangnya negara omnipoten telah membuka peluang terhadap ekspresi kebudayaan yang jauh lebih besar; baik orang Tionghoa, suku-suku lain di Indonesia, Islam internasional dan liberalisme barat, sebagai contoh. Ekspresi-ekspresi tersebut seringkali ditentukan oleh kekuatan-kekuatan pasar.

Seluruh kerumitan kebudayaan dan kekayaan dari masing-masing peradaban itu dikompresikan dalam kata-kata murahan yang menjadi alat marketing: eksotis, ekslusif, elite, elegan. Semuanya adalah bahasa Inggris yang di-Indonesia-kan. Tetapi apa saja yang hilang dari halaman-halaman koran ini? Tentu kata-kata seperti investasi dan hijau itu tetap menjadi bagian dari perhatian iklan-iklan, tetapi jelas pula bahwa untuk sebagian iklan perumahan, mereka telah digantikan oleh kata-kata Indon-english tersebut. Optimisme dari eksekutif muda kita itu telah bergeser. Zaman pascakrisis adalah zaman saat seseorang tidak memikirkan bahwa sebuah rumah itu bagus jika bisa diperluas seiring dengan penambahan jumlah anak. Eksekutif muda kita mungkin telah dipecat pada 1997, tetapi jika tidak; dia telah memilih untuk tinggal di rumah gaya Italia di sebuah perumahan di Bekasi. Rumah-rumah itu tentunya berbentuk cluster, karena bentuk itu lebih menjamin keamanan dari kota Jakarta yang makin tidak aman tiap tahunnya. Melebihi rasa nyaman, asri dan lainnya; perasaan bahwa kelas kita adalah kelas ekslusif yang harus melindungi dirinya dari “massa” yang terus menerus mengancam. Ada satu hal yang saya rasakan amat kuat dalam membaca iklan-iklan ini: bahwa masa depan sudah tidak lagi menjadi bagian dari pertimbangan, setidaknya, masa depan yang Indonesia.

Jika merunut pada pandangan David Harvey mengenai pascamodernisme; maka tentunya gaya perumahan pasca-Orde Baru merupakan salah satu perwujudan paling nyata dari pascamodernisme Indonesia. Pada 1990, Tempo mengeluarkan satu artikel mengenai Posmo. Awal 1990-an adalah awal-awal dari kemunculan pascamodernisme di Indonesia, setidaknya di ranah arsitektural. Sebenarnya, jenis-jenis neotradisional yang diusung oleh rezim Orde Baru dapat dikategorikan sebagai pascamodernisme, tetapi kemunculan posmo dianggap sebagai sebuah impor Barat, sehingga salah satu bentuk awal yang dianggap pascamodernis adalah gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Ketika beberapa arsitek ditanya arti dari pascamodernisme, mereka menjawab: desain yang acak-acak. Itulah yang terjadi pada perumahan Indonesia: desain acak-acak, di mana unsur lokal dengan langgam luar disatukan dalam bentuk-bentuk yang baru. Sama seperti masyarakatnya, gaya rumah pasca-Orde Baru adalah gaya rumah yang sedang dalam negosiasi: sebuah gaya yang terus-menerus berubah justru karena ia belum menentukan bentuk barunya. Tetapi bisa juga disebutkan; dalam kondisi pascamodernis Indonesia sekarang, tidak ada lagi gaya esensial; apakah kita sedang menghadapi sebuah dunia di mana tidak akan pernah lagi ada ide akan gaya yang tetap? Kalau begitu, dapatkah dikatakan bahwa yang kita lihat adalah awal kematian dari “Indonesia” sebagai sebuah wacana dan pemahaman orang-orang tertentu akan identitasnya?


Penutup
Apa yang terjadi pada Indonesia 1997? Tentunya ia telah mengalami perubahan. Pasca-Orde Baru adalah masa-masa yang hidup dengan ledakan kebudayaan. Kalau merunut pada pandangan awal kita yang menghubungkan bentuk kebudayaan, sosial, dan politik dengan bentuk ekonomi yang mendasarinya, bisa dikatakan bahwa ini adalah hasil logis dari pergeseran peranan negara dan masuknya Indonesia ke dalam struktur perekonomian global yang pro-pasar dan berorientasi ekspor. Sejak akhir 1980-an, negara Orde Baru telah mengalami pelemahan vis a vis struktur neoliberal; kehancuran Orde Baru mengakibatkan makin derasnya pengaruh-pengaruh struktur global ini pada tatanan kebudayaan dan sosial.

Beriringan dengan perubahan itu; pergeseran-pergeseran teknologi komunikasi dan transportasi telah membuka kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas lagi dalam peng-imajinasi-an dari Indonesia itu sendiri. Kota Jakarta, sebagai ibukota dan pintu masuk pengaruh global itu, mengalami perubahan yang paling kuat. Bukan hanya karena kelas menengahnya cukup banyak, tetapi juga karena sebagian besar dari ruang kotanya telah diekspropriasi oleh neoliberalisme. Amat menakjubkan jika dilihat bahwa semakin kuatnya Jakarta terintegrasi dalam struktur ekonomi global ini, maka semakin mirip pula Jakarta dengan kota-kota lain yang telah sama pula memasukinya: Manila, Bangkok, Kuala Lumpur sekarang memiliki skyline yang mirip dengan kota Dallas, Durban, Buenos Aires, ataupun Harare.

Saya ingin membuat satu kesimpulan yang agak rapuh dari sini: dunia pasca-Orde Baru adalah dunia di mana orang kelas menengah Jakarta sedang melarikan diri dari Indonesia. Bagai semua orang masih ingat dan trauma terhadap eksodus 1998, rumah-rumah ini mengingatkan saya pada koper yang siap jalan. Iklan-iklan-nya tidak lagi bercerita mengenai orang muda yang akan hidup di masa depan yang cerah, melainkan mengingatkan orang-orang akan tempat-tempat lain, dunia-dunia pesona lain, yang suatu saat mungkin akan diperlukan jika Jakarta jatuh rusuh kembali.

Leiden, Belanda, Februari 2007

FARABI FAKIH lahir di Jakarta, 8 Januari 1981. Ia pernah menjadi asisten peneliti di Pusat Studi Sosial Asia Tenggara, Universitas Gadjah Mada dan Koordinator Penelitian di Syarikat, Yogyakarta. Saat ini, ia menjadi asisten dosen di Universitas Gadjah Mada, yang sementara ditinggalkannya untuk belajar sejarah di Universitas Leiden, Belanda. Ia pernah menulis buku Membayangkan Ibukota, Jakarta di bawah Soekarno (2003). Esai ini, ditulis ulang untuk jurnal-online Karbon, dari makalah program pelatihan Pascakolonial, Realino, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang juga akan diterbitkan dalam bentuk seri bersama tulisan-tulisan lain.



1. Iklan Perumahan Kosambi Baru di majalah Tempo: "Makin Tumbuh Rumahnya, Makin Tumbuh Nilainya."

2. Iklan perumahan Kemang River View di harian Kompas: "Kemang River View?", tanya calon mertuaku dengan serius, "Mengapa rumah di sana lebih baik untuk investasi?"

 


3. Iklan Windsor Mansion-Kota Wisata di harian Kompas: "Simbol cita rasa ekslusif kaum bangsawan Inggris"


4.
Iklan Villa Praha di harian Kompas: "Menghadirkan Eksotisme arsitektur Eropa Timur di Kota Bunga Puncak".
Foto koleksi Farabi Fakih.



Catatan kaki
[1] Bennedict Anderson, Imagines Communities. Komunitas-komunitas Terbayangkan (Yogyakarta: Insist Press, 2001).
[2] Seruo
Sekimoto, "Uniforms and concrete walls. Dressing the village under the New Orde in the 1970s and 1980s" dalam Henk Schulte Nordholdt (ed.), Outward Appearances, dressing state society in Indonesia (Leiden: KITLV Press, 1997), hal. 307-338.
[3]
James Siegel, A New Criminal Type in Jakarta. Counter-Revolution Today (Durham: Duke University Press, 1998), hal. 25-29.
[4]
Abidin Kusno, Behind the Postcolonial. Architecture, urban space and political cultures in Indonesia (London: Routledge, 2000), hal. 71-96.

Komentar

are not interested until it is one thing to accomplish with Lady gaga! Your own stuffs nice. At all times deal with it up

  

I love reading a post that will make men and women think. Also, thanks for allowing for me to comment!

I like reading an article that will make men and women think. Also, many thanks for allowing for me to comment!

I like reading through an article that will make people think. Also, many thanks for permitting me to comment!

I like reading through an article that will make people think. Also, many thanks for permitting me to comment!
<a href="http://www.youtube.com/watch?v=ltNzqzOCKD4">Farm Heroes Saga hack</a>
<a href="http://www.youtube.com/watch?v=9SRkXz1tPbY">Respawnables hack</a>
<a href="http://www.youtube.com/watch?v=iqLNVbIP-Tg">Contract Killer 2 Hack</a>

 Seiring dengan perubahan teknologi komunikasi dan transportasi, pada sebuah ledakan bentuk-bentuk masyarakat imajiner baru, bisa terjadi apa yang disebut Arjun Appadurai sebagai “pencabutan imajinasi dari ranah ruang

Taman Alfa Indah menawarkan "… pemukiman yang nyaman, bebas dari polusi udara, kebisingan kota dan bahaya banjir". Persoalan-persoalan dasar yang selalu menghantui kota Jakarta; seperti masalah polusi, bising, dan banjir menjadi pemikat utama. Adanya fasilitas seperti air PAM dan jalanan aspal mulus menjadi indikator kebaikan perumahan. Terlihat bahwa konsep rumah pada zaman ini amatlah sederhana pula: tempat penghuni menghindarkan diri dari terjangan keburukan kota Jakarta, tempat di mana fasilitas dapat menyediakan jawaban terhadap keburukan itu.

Thanks for one's marvelous posting! I truly enjoyed reading it, you're a great author.I will be sure to bookmark your blog and will come back later on. I want to encourage continue your great job, have a nice evening!

 

Peter Deeb has been an entrepreneur for more than 25 years. As founder and Chairman of Hampton Equity Partners, he has built a career investing in and financing, companies in the energy, shipping and property sector. 

Every single day a large number of much more web sites and pages sign up for the Internet that contend in your neighborhood of great interest, or maybe in your area of interest.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.