FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 6 | Agustus 2009
Memandang kota dengan humor tanpa menjadi tumor
Pengantar
01 Agustus 2009


DUNIA KOMEDI kita boleh saja sudah terbebas dari kerangkeng Orde Baru. Humor sebagai “cahaya demokrasi” sebenarnya sudah bisa tinggal landas.[1] Humor yang serius seperti petuah Arwah Setiawan,
[2] semestinya mampu bebas lepas meracau di media massa dengan cara yang bahkan bisa lebih kritis daripada para komedian pendahulunya seperti Srimulat, Warkop DKI, Bagito, Patrio, maupun kharisma jenaka Benyamin S.[3]

Tentu saja, media massa punya sejumlah batasan. Sekalipun berhasil membobol televisi misalnya, sebagai media massa yang paling menggoda, susah juga membebaskan diri dari jerat yang membatasi semua potensi kritis humor yang ampuh. Televisi telanjur menjadi industri sendiri. Program komedi televisi pun tak luput dari situasi yang ganjil. Di satu sisi, ia harus tetap ada sebagai hiburan dan mesin uang. Namun di sisi lain ia tak berani banyak mengembangkan diri karena roda produksinya berjalan terlalu cepat sehingga nyaris tak ada waktu bagi pegiat komedinya untuk berpikir kreatif. Celakanya juga, tak banyak pula komedian yang kreatif dan bermental baja.

Sayangnya, semua itu tampak datar-datar saja. Terutama jika kita mengingat posisi pemirsa bagi stasiun televisi yang tak kalah janggalnya. Pemirsa dianggap pasif sekaligus dikhawatirkan menjadi agresif. ‘Pasif’ karena pemirsa tak lebih dari statistik rating AC Nielsen yang konon tak lagi akurat, digeneralisasi mustahil cerdas, tak berakal sehat, tak mampu menerima humor cerdas, tak lebih dari zombie televisi. ‘Dikhawatirkan menjadi agresif’ karena ketidakberanian televisi mengembangkan diri sesungguhnya berdasarkan ketidakmengenalan mereka atas pemirsanya sendiri—gerombolan zombie tentu saja sulit dimengerti, dan apa yang asing jelas selalu mencemaskan. Para zombie itu sebagian bahkan sudah menguat menjadi kelompok yang semakin sensitif dalam menerima kritik-diri, dari sebuah humor atau acara komedi sekalipun.

Namun apakah kita sudah siap menerima kritik-diri? Dan sebelum menerimanya apakah kita sudah cukup humoris memandang keseharian yang kadang menyesakkan jiwa ini? Tanpa perlu diotopsi lebih dalam, humor jelas bermanfaat bagi jiwa-raga kita. Jika kita tak bisa lagi mengharapkan humor a la media massa, mungkin kita perlu beralih pada keseharian. Baik keseharian yang kita lihat, kita ucapkan, dan kita dengarkan; yang ternyata jauh lebih menggelikan. Kadar humor itu bisa dikelola lebih jauh. Tak sebatas percakapan sehari-hari (sebagai humor dalam sebuah forum yang aman terkendali, yang membuat kita mudah melupakan ancaman subversif, pelanggaran SARA, bahkan fatwa haram-haraman yang bisa saja mencemaskan dan mengubah menggelikan jadi mengerikan). Namun juga membangun kadar humor dalam melihat keseharian di ruang hidup kita, yang dalam Fokus Karbonjournal.org kali ini adalah ruang kota.

Kali ini, dengan gagah berani kami mempersembahkan esai-esai pilihan yang ditulis khusus untuk fokus “Humor di Ruang Kota”. Fokus juga dibuat demi menyambut mesra OK. Video: Comedy – 4th Jakarta International Video Festival 2009 yang diadakan oleh ruangrupa, organisasi seni rupa kontemporer penerbit jurnal ini. Agar selaras dan harmonis, peluncuran Fokus ini pun dilakukan beberapa hari setelah malam pembukaan festival video dua tahunan ini, yaitu pada 1 Agustus 2009. Festival OK. Video: Comedy sendiri berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, dari 29 Juli – 9 Agustus 2009.

Esai-esai yang akan Anda baca ini, secara melegakan berhasil memenuhi tuntutan tambahan agar tak hanya membahas hal yang lucu, namun juga dibahas dengan lucu. Mungkin tidak semuanya bisa membuat Anda tergelak sampai tersedak karena kadar humor setiap orang selalu berbeda, namun kiranya cukup untuk membuat Anda tersipu-sipu.

Selain itu, esai-esai ini juga beragam dalam pembahasan. Dua esai pertama membahas dunia televisi kita. Veven Sp. Wardhana sebagai pengamat televisi yang sangat rajin menonton lalu mencatat, berbicara panjang-lebar tentang betapa semua isi televisi itu sebenarnya sangat lucu. Cukup menonton televisi saja, maka Anda akan menemukan sejuta keanehan, mulai dari film horor yang menjadi sinema religi, sintingnya infotainmen, berbagai istilah aneh, sampai tayangan sinetron absurd, dan iklan-iklan siluman yang walau suka menyamar tetap selalu ketahuan.

Bahasan berikutnya lebih spesifik yaitu tentang produksi program komedi di stasiun televisi. Kami berhasil mempublikasikan surat protes seorang pelacur media, M. Isfanani Haidar Ilyas, kepada Produser Eksekutif atasannya di sebuah stasiun televisi ternama (maaf, tak bisa kami sebutkan nama stasiunnya di sini). Dalam surat yang bernada muram campur geram nan vulgar ini, Isfanani membocorkan banyak hal kepada kita: cara-cara yang digunakan televisi untuk menghadirkan acara komedi tak bermutu dan fenomena komedi di televisi yang menurutnya dangkal dan suka menjiplak. Lalu dengan nada putus asa yang mengundang tawa yang miris, ia bertanya mengapa oh mengapa semua itu bisa terjadi? Pelan-pelan, ia berusaha menjawabnya. Tentu saja dengan spekulasi khasnya yang akan membuat Anda sampai pada kesimpulannya sambil tersenyum simpul.

Keluar dari ruang produksi stasiun televisi dan layar kaca, esai selanjutnya menjelajahi jalanan kota Yogyakarta dan Jakarta. Esai pertama dari Nuraini Juliastuti mempertanyakan kebiasaan orang-orang berjaket tebal di bawah sengatan matahari Yogyakarta yang menusuk tulang. Dimulai dari pengalaman pribadi, pengalaman temannya, hingga tanggapannya atas pengguna sepeda motor berjaket dengan perangkat pelindung lengkap lainnya, Nuraini mengantar kita untuk menanyakan hal-hal yang nyaris lumrah dalam keseharian.

Esai kedua ditulis oleh Evi Mariani Sofian yang membahas keluh-kasih jalanan Jakarta. Ia menuturkan berbagai hal ironis di jalanan kejam Jakarta, dan sejumlah kisah-kisah mengharukan yang secara aneh terjadi, yang katanya sungguh “menghangatkan hati”. Evi tak hanya menatap keseharian yang ironis, yang bisa sangat pahit dan menggelitik pada saat bersamaan, namun juga menghembuskan energi positif dalam melihat keseharian. Mungkin energi positif itulah yang perlu segera kita terapkan dalam menyikapi jalanan Jakarta yang tak manusiawi.

Menertawakan keseharian perlu dilakukan secara arif dan bijaksana. Katanya, hal tersebut juga lahir dari perilaku tanggap sasmita, agar kritis bisa tetap empatis. Farid Rakun, dalam esai terakhir Fokus ini, mencermati hal itu dalam sebuah blog. Isi blog itu adalah foto temuan sehari-hari, yang memotret produk-produk plesetan merk terkenal. Farid lalu bertanya, “Apakah blog ini sungguh hendak berbagi kelucuan atau sekadar menertawakan?” Bagaimana sesuatu yang lucu di jalanan menjadi lucu di blog, padahal tak dilihat oleh orang yang sama? Di mana batas mencaci dan melucu? Apakah semua ini hanya naif atau bahkan eksploitatif? Farid tak henti bertanya, sampai akhirnya ia menemukan sejumlah kemungkinan yang sebaiknya Anda baca sendiri dalam esainya.

Sebelum mengakhiri pengantar yang tampaknya jadi terlalu panjang ini, saya berterimakasih kepada semua penulis, yang telah membuat empat bulan penyusunan Fokus ini berakhir ceria. Dan tanpa jemu, saya siarkan kembali bahwa sifat online jurnal ini membuat esai-esai dalam setiap Fokus yang telah terbit bisa terus ditambahkan. Semoga Anda berminat turut serta agar fokus ini semakin kaya dengan esai-esai yang membicarakan masalah yang pelik dengan menggelitik. Agar diam-diam Arwah Setiawan yang benar-benar sudah menjadi arwah itu dapat tersenyum simpul di atas (atau di bawah) sana, mengangguk senang sambil terus tiada bosan menggumamkan petuahnya, “Humor itu serius.” Lalu kata Horace Walpole, “Dunia ini adalah sebuah komedi bagi mereka yang berpikir, dan tragedi bagi mereka yang merasa.”[4]

Jakarta, 1 Agustus 2009

Ardi Yunanto
redaktur Karbonjournal.org


ARDI YUNANTO lahir di Jakarta, 21 November 1980. Setelah lulus dari jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Nasional Malang pada 2003, ia kembali ke Jakarta, kota di mana ia dibesarkan. Sejak 2004 bergabung dengan ruangrupa, dan sejak 2007 menjadi redaktur utama untuk Karbonjournal.org. Selain menulis dengan sangat tidak produktif tentang kota dan seni rupa, ia juga bekerja sebagai peneliti untuk beberapa proyek seni-budaya, editor buku, dan desainer grafis, sambil terus mencuri waktu untuk menulis cerita pendek.





Wish you where here oleh Paul Kadarisman.

Catatan kaki
[1] Ini sebuah kutipan bebas karena sesungguhnya Anwari mengatakan “lawak sebagai cahaya demokrasi” di dalam pendahuluan bukunya, Indonesia Tertawa: Srimulat sebagai Sebuah Subkultur (Jakarta: LP3ES, 1999), ketika membicarakan fenomena lawak Indonesia. Dalam buku tersebut, Anwari membahas Srimulat dalam dunia lawak Indonesia.
[2] Arwah Setiawan (1935 - 1995) adalah tokoh humor Indonesia. Ia pernah mendirikan dan menjadi ketua Lembaga Humor Indonesia (1978-1995) dan tulisan-tulisan (tentang) humornya, dengan gaya nyeleneh tiadatara, banyak dipublikasikan di berbagai media massa. Bukunya yang terkenal adalah Humor Indonesia Tahun 2000 Plus (Jakarta: Grasindo, 1996) dan Humor Zaman Edan (Jakarta: Grasindo, 1997). Arwah Setiawan meninggal pada 1995, tahun yang sama dengan berpulangnya Benyamin S, seorang seniman legendaris Betawi yang serba-bisa.
[3] Dalam konteks rezim Orde Baru, Warkop DKI pernah dengan jitu menggambarkan situasi zaman, yang secara cerdas dan jenaka mereka jadikan slogan mereka yang terkenal itu: “Tertawalah sebelum Tertawa itu Dilarang”.
[4] This world is a comedy to those that think, a tragedy to those that feel.” — Horace Walpole.
Saya tidak tahu siapa itu Horace Walpole, bahkan terlalu malas mengecek Wikipedia. Kutipan ini saya lihat pertama kali di sebuah kalendar 2009 penerbit Jalasutra di sebuah rumah di Yogyakarta, yang ternyata salah menerjemahkan, sehingga kalimat itu menjadi, “Dunia adalah komedi bagi mereka yang melakukannya, atau tragedi bagi mereka yang merasakannya.”

Komentar

Sebelum mengakhiri pengantar yang tampaknya jadi terlalu panjang ini, saya berterimakasih kepada semua penulis, yang telah membuat empat bulan penyusunan Fokus ini berakhir ceria.

Sayangnya, semua itu tampak datar-datar saja. Terutama jika kita mengingat posisi pemirsa bagi stasiun televisi yang tak kalah janggalnya. Pemirsa dianggap pasif sekaligus dikhawatirkan menjadi agresif. 

Dan sebelum menerimanya apakah kita sudah cukup humoris memandang keseharian yang kadang menyesakkan jiwa ini? Tanpa perlu diotopsi lebih dalam, humor jelas bermanfaat bagi jiwa-raga kita

 Para zombie itu sebagian bahkan sudah menguat menjadi kelompok yang semakin sensitif dalam menerima kritik-diri, dari sebuah humor atau acara komedi sekalipun.

 Para zombie itu sebagian bahkan sudah menguat menjadi kelompok yang semakin sensitif dalam menerima kritik-diri, dari sebuah humor atau acara komedi sekalipun.

Sayangnya, semua itu tampak datar-datar saja. Terutama jika kita mengingat posisi pemirsa bagi stasiun televisi yang tak kalah janggalnya. Pemirsa dianggap pasif sekaligus dikhawatirkan menjadi agresif. 

It's ɑmazing inn favor of me to have a web site, which is helpful inn support off my knowledge. thanks admin

Para zombie itu sebagian bahkan sudah menguat menjadi kelompok yang semakin sensitif dalam menerima kritik-diri, dari sebuah humor atau acara komedi sekalipun.

Sayangnya, semua itu tampak datar-datar saja. Terutama jika kita mengingat posisi pemirsa bagi stasiun televisi yang tak kalah janggalnya. Pemirsa dianggap pasif sekaligus dikhawatirkan menjadi agresif.

Namun di sisi lain ia tak berani banyak mengembangkan diri karena roda produksinya berjalan terlalu cepat sehingga nyaris tak ada waktu bagi pegiat komedinya untuk berpikir kreatif. Celakanya juga, tak banyak pula komedian yang kreatif dan bermental baja.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.