FOKUS 1 | Maret 2007

-A A +A
Versi ramah cetakPDF version
FOKUS 2 | Mei 2007
Lubang-lubang jalan Handy Hermansyah
Agung Hujatnikajenong
15 Mei 2007


HANDY HERMANSYAH, seniman muda kelahiran Kudus, 17 April 1978, tidak pernah melupakan salah satu pengalaman terburuk sepanjang hidupnya: Kamis, 27 Maret 2002, ia terjatuh dari sepeda motor karena kondisi ruas jalan Pasteur, Bandung, yang rusak berat, penuh lubang. Ketika itu ia sedang pulang menuju rumahnya di jalan Tubagus Ismail dengan membonceng Arief Tousiga, sahabatnya semasa belajar di Studio Patung FSRD ITB. Karena kecelakaan tersebut, Handy mengalami luka-luka dan rasa sakit di sekujur badan. Ketika itu ia merasa kesal dan marah, tapi tak tahu bagaimana dan kepada siapa menumpahkannya.

Handy tipe seniman yang tak banyak bicara. Semua pemikirannya lebih banyak ia pendam sendiri untuk kemudian ditumpahkan ke dalam karya-karya patung dan lukisannya. Termasuk soal lubang jalan yang membuatnya kesal itu, ia hanya banyak berbicara kepada Arief. Mereka berdua mulai berdiskusi dan menggagas sebuah proyek seni yang berhubungan dengan jalan raya sebagai fasilitas publik yang paling vital dalam kehidupan masyarakat urban seperti di Bandung. Pengalaman mendapat musibah karena kondisi jalan aspal yang berlubang menjadi titik keberangkatan proyek ini. Yang terpikir oleh Handy ketika itu sederhana saja: Bagaimana membuat sesuatu yang bisa mencegah pengguna jalan lain mengalami nasib yang sama dengannya.

Handy berpikir untuk membuat marka yang mengingatkan tentang bahayanya lubang jalan. Karena terdidik sebagai pematung, semula ia ingin membuat rambu-rambu dalam bentuk objek tiga dimensional yang bisa dipajang di jalan, namun rencana itu batal karena dirasanya terlampau ‘mengada-ada’ dan malah bisa mengganggu fungsi jalan itu sendiri. Bagaimanapun, marka itu harus dibuat sesederhana mungkin tapi tetap efektif, tidak mengganggu fungsi primernya.

Akhirnya Handy memutuskan untuk membuat marka itu dengan cat tembok warna putih. Cat tembok dipilih karena karakternya yang mudah kering, murah, mudah dibawa dan tidak memerlukan prosedur khusus untuk menggunakannya. Untuk proyek ini Handy memang membutuhkan material-material yang praktis dan mudah dibawa ke manapun karena ia ingin melibatkan performans dengan cara turun langsung ke jalan.

Selasa, 1 April 2002. Kurang lebih pukul 12 siang, justru pada saat jalanan di Bandung dipadati oleh mobil-mobil yang lalu lalang, Handy mulai melakukan performans-nya di perempatan jalan Ir. H. Juanda–Cikapayang–Surapati. Dengan sebuah kereta dorong yang berisi kaleng-kaleng cat dan kuas, ia mulai menelusuri jalan-jalan dan menilik-nilik kondisi jalanan di sekitarnya. Kemudian ia menandai lubang-lubang jalanan itu dengan cara mengecat lingkaran terluarnya. Aksinya itu sudah tentu menarik perhatian banyak orang. Menandai lubang jalan bukanlah pekerjaan yang umum dilakukan, bahkan oleh para pegawai dinas tata kota Bandung sekalipun.

Dari seputar jalan Ir. H. Juanda dan Tirtayasa, Handy melanjutkan performans-nya di sepanjang jalan Cikapayang. Ini sudah tentu bukan pekerjaan yang tanpa resiko. Padatnya jalanan oleh mobil dan perilaku berlalulintas (khususnya para pengemudi angkutan kota) di Bandung yang cenderung tidak toleran menyebabkan Handy harus melakukan trik-trik tertentu agar terhindar dari mobil-mobil yang tetap meluncur dengan kencang, meskipun ia meletakkan rambu segitiga pengaman di sekitar lubang-lubang yang sedang dicatnya. Karena lubang-lubang jalan itu menganga di mana-mana—tak beraturan, di pinggir dan tengah aspal jalan—tak jarang, Handy harus menerima umpatan para pengemudi yang merasa jalannya terhalangi. Semua tahapan proses aksi Handy itu didokumentasikan dalam bentuk video dan foto.

Bagian menarik dari proyek seni Handy ini adalah ketika apa yang dilakukannya mampu memancing simpati dan perhatian beberapa orang yang kebetulan berada di sekitar lokasi yang dilaluinya. Beberapa pedagang kaki lima yang awalnya terheran-heran melihat apa yang dilakukan Handy kemudian mencoba mencari tahu tentang tujuan sebenarnya dari proyek ini. Handy pun menjelaskannya secara panjang lebar sampai orang-orang itu mengerti. Beberapa di antara mereka kemudian dengan sukarela membantu Handy dengan cara ikut mengatur lalu lintas kendaraan selama proyek ini dijalankan. Beberapa anak berusia belasan tahun yang kebetulan sedang berada di situ bahkan ikut membantu Handy dengan sekedar mengaduk cat atau ikut mengecat lubang-lubang jalan. Pada tataran ini, aksi Handy telah ‘berhasil’ membangkitkan kesadaran orang-orang tentang apa yang menjadi kepeduliannya.

Aksi Handy ini berlangsung selama kurang lebih satu minggu dan berlanjut ke sepanjang Dago Pakar, Tubagus Ismail, Cikutra dan Taman Sari. Ia menghabiskan puluhan kaleng cat tembok warna putih yang didapatkannya dari sumbangan seniman Sunaryo, salah satu dosennya di Studio Seni Patung FSRD ITB. Dari aksinya ini, ia mendapatkan dari ulasan salah satu surat kabar nasional sebagai seniman yang mewujudkan bentuk kepedulian terhadap lingkungan perkotaan, terlepas bahwa marka lubang jalan itu tidak bertahan lama.

Frino Barianciannur, seniman video asal Bandung yang melakukan pendokumentasian proyek ini, mewawancarai dan meminta pendapat orang-orang tersebut tentang lubang-lubang jalan itu. Beberapa orang pedagang barang-barang loak kaki lima di sudut-sudut jalan Cikapayang, yang semula terheran-heran menonton aksi Handy, mengatakan bahwa mereka sangat kecewa dengan keadaan jalan yang rusak, salah satu sebabnya karena genangan air hujan yang terlindas mobil seringkali mengotori barang dagangannya atau menciprati orang yang lewat. Lewat wawancara itu pula, mereka menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah kota tentang fasilitas jalanan kota Bandung yang tidak dikelola dengan baik.

Dalam melihat aksi langsung di ruang publik seperti yang dilakukan Handy, kita dihadapkan pada pertanyaan laten: Apakah ini layak disebut sebagai karya/proyek seni? Apakah karena yang melakukan aksi ini adalah seorang seniman (pematung), lantas ini layak disebut sebagai ‘seni’? Pertanyaan ini sangat problematik, mengingat banyak persoalan pemahaman tentang batasan ‘seni’ yang sampai saat ini diperdebatkan. Sejarah keberadaan karya/aksi/proyek seni di ruang publik dalam konteks seni rupa Indonesia bisa ditelusuri sejak tahun 70-an, bahkan sudah sering diperbicangkan sebagai bagian dari perkembangan yang mapan. Pada dekade 90-an kecenderungan seni ini semakin menguat seiring dengan merebaknya tema-tema sosial politik.

Aksi Handy sebagai sebuah proyek seni publik tentu saja harus diukur dengan parameter-parameter yang melihat sejauh mana proyek ini mampu merangsang kesadaran sosial dan artistik secara bersamaan dan proporsional. Handy telah mampu membangkitkan kesadaran sosial dengan melakukan aksi yang secara provokatif, langsung dan mengejutkan dilakukan di tempat publik. Kondisi fasilitas jalanan di Bandung ketika itu memang tidak terperhatikan karena mega proyek jalan Pasupati yang lebih menjadi prioritas utama. Ini menandakan bahwa pengelolaan fasilitas publik di kota besar seperti Bandung tidak pernah dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Kalau fungsi sosialnya dianggap berhasil, lantas bagaimana mengukur kadar artistik dalam proyek semacam ini? Saya berpikir bahwa untuk melihat proyek ini sebagai ‘proyek seni’, ukuran-ukuran kadar artistik yang digunakan tentu saja berbeda dengan ukuran yang digunakan untuk melihat karya-karya seni jenis lain. Cara Handy menandai lingkaran luar lubang-lubang jalan itu sudah menunjukkan pemikiran yang rinci dan pendekatan yang menarik dalam proses produksi tanda, meskipun kadar artistiknya tidak menonjol (dan tidak relevan juga untuk diperbincangkan). Oleh karena itu saya tidak ragu-ragu menyebut ‘Lubang-lubang Jalan’ ini sebagai proyek seni publik yang berhasil.


Bandung, April 2007


AGUNG HUJATNIKAJENONG lahir di Tasikmalaya, 9 Januari 1976. Sejak 2001 sampai saat ini bekerja sebagai kurator di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Selain menjadi staf pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, ia juga aktif menulis telaah-telaah seni rupa di berbagai media massa dan jurnal.

HANDY HERMANSYAH lahir di Kudus 1978, tinggal dan berkarya di Bandung. Ia dulu hobi bersepeda dan berjalan kaki, namun kini tidak lagi. Sekarang, aktivitasnya sehari-hari hanya di studio saja. Performans lubang jalanan ini merupakan satu-satunya performans yang ia lakukan di ruang publik. Saat ini ia sedang serius membuat patung dari sayuran dan material lain yang mudah membusuk, kemudian mendokumentasikannya menjadi karya yang lebih awet, seperti pada karya-karyanya yang dibuat semasa proyek residensi Landing Soon 3 di Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta pada 2007.



 



Fotografi © Handy Hermansyah

 


Komentar

Handy tipe seniman yang tak banyak bicara. Semua pemikirannya lebih banyak ia pendam sendiri untuk kemudian ditumpahkan ke dalam karya-karya patung dan lukisannya. Termasuk soal lubang jalan yang membuatnya kesal itu, ia hanya banyak berbicara kepada Arief.

Pengalaman mendapat musibah karena kondisi jalan aspal yang berlubang menjadi titik keberangkatan proyek ini. Yang terpikir oleh Handy ketika itu sederhana saja: Bagaimana membuat sesuatu yang bisa mencegah pengguna jalan lain mengalami nasib yang sama dengannya.

We are really grateful for your blog post.

Handy tipe seniman yang tak banyak bicara. Semua pemikirannya lebih banyak ia pendam sendiri untuk kemudian ditumpahkan ke dalam karya-karya patung dan lukisannya

Frino Barianciannur, seniman video asal Bandung yang melakukan pendokumentasian proyek ini, mewawancarai dan meminta pendapat orang-orang tersebut tentang lubang-lubang jalan itu.

Elektro Golf Caddys (Trolleys) zu günstigen Preisen - Top Qualität

Kurang lebih pukul 12 siang, justru pada saat jalanan di Bandung dipadati oleh mobil-mobil yang lalu lalang, Handy mulai melakukan performans-nya di perempatan jalan Ir. H.

 Yang terpikir oleh Handy ketika itu sederhana saja: Bagaimana membuat sesuatu yang bisa mencegah pengguna jalan lain mengalami nasib yang sama dengannya.

Termasuk soal lubang jalan yang membuatnya kesal itu, ia hanya banyak berbicara kepada Arief. Mereka berdua mulai berdiskusi dan menggagas sebuah proyek seni yang berhubungan dengan jalan raya sebagai fasilitas publik yang paling vital dalam kehidupan masyarakat urban seperti di Bandung. 

 Pengalaman mendapat musibah karena kondisi jalan aspal yang berlubang menjadi titik keberangkatan proyek ini. Yang terpikir oleh Handy ketika itu sederhana saja: Bagaimana membuat sesuatu yang bisa mencegah pengguna jalan lain mengalami nasib yang sama dengannya.

Add comment

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p><br>

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.