“Tapi aye kesepian di rume, Bang!”
“Kalau pengen rame ke pasar sono!”
— Engkong (H. Tile) dan istrinya, dalam Si Doel Anak Sekolahan, episode entah.
Redaksional kalimat tidak dijamin.
ORANG BIJAK berkata: hidup itu tidak bisa sendirian. Orang kurang bijak—yang sayangnya banyak sekali—berkata: hidup memang tidak bisa sendirian, nanti siapa yang bisa dikalahkan? Meskipun ‘kurang bijak’, semangat kompetitif macam ini ampuh mendorong pencapaian, tapi juga kesepian. Dari situ, masih ada efek samping lain yang harus dipenuhi. Pencapaian membutuhkan pengakuan, dan kesepian membutuhkan teman. Kalau tidak ada teman, pengagum juga boleh.
Sebetulnya hasrat ingin diakui itu alami belaka. Setiap orang membutuhkannya pada kadar tertentu. Gawatnya, aura impersonal dalam hubungan antarmanusia di kota (atas nama profesionalisme?) membengkakkan kebutuhan itu. Dan bagaikan menuang bensin ke bara api, dunia selebriti di media dan televisi membuat hasrat itu kian berkobar. Demi menyaksikan sebuah kasta bernama selebriti bisa dicintai dan diperhatikan, meskipun tidak jelas prestasinya apa, orang menjadi sadar bahwa perhatian yang meriah itu mungkin untuk didapat. Perkara untuk apa didapat, itu nanti.
Anda tahu kisah klasik tentang preman yang menawarkan jasa pengamanan dari ancaman, padahal yang mengancam awalnya dia sendiri? Televisi menawarkan jasa penyelamatan yang sama. Raih pencapaian, kumpulkan pengagum. Siapa tahu bisa menghilangkan kesepian.
* * *
Evolusi jenis acara yang menampung hasrat semacam ini berkembang, dari yang paling glamor hingga yang paling ‘lekas jadi’. Dari yang berjenis kontes bakat seperti AFI, Indonesian Idol, atau KD, beralih ke drama reality (apa pun artinya itu) semacam Termehek-mehek di Trans TV atau Tak Ada yang Abadi di RCTI.
Apa yang mendasari pergeseran ini? Mungkin hanya Tuhan yang tahu, karena saya tidak yakin para produser dan pelakunya sendiri tahu. Tetapi belakangan terasa, acara kontes bakat menuntut tanggung jawab yang besar dari penyelenggara: mengurus artis bentukannya, mengarantina, mengatur jadwal, merancang kontrak. Berani mengabaikan tanggung jawab ribet itu? Muncullah cerita-cerita horor nan pilu, seperti mantan kontestan yang disia-sia, bangkrut,dan ditelantarkan. Pihak televisi boleh bersilat lidah membela diri, tetapi citra mereka kadung tersemen: sebagai pihak yang zalim atas seorang mantan kontestan, seorang biasa, seperti kita para pemirsa! Berani-beraninya mereka.
Maka menjamurnya drama reality adalah cara murah untuk melupakan insiden-insiden itu, lalu menyajikan atraksi yang lebih (terlihat) nyata, lebih (terlihat) mentah, dan (maunya terlihat) jujur. Apa lacur, sebuah episode Termehek-mehek pada September 2008 memicu perbincangan: bagaimana mungkin menyelesaikan sebuah perkara yang pada dasarnya kriminal dengan melapor ke TV? Kecurigaan yang telah lama mengintai kini menguat. Drama reality itu rekaan belaka.
Bohong jika Anda kaget. Memangnya Anda kira ke mana rombongan calon artis kesepian tadi mengalir? Ke acara Miss Celebrity Indonesia (SCTV) yang hanya sekelebat atau ke Mendadak Artis di TPI yang konsepnya semakin kabur dan stasiunnya nyaris pailit? Nehi. Ke drama reality, saudara-saudara. Inilah persembahan sajian kemalangan untuk Anda nikmati, dan ketenaran sesaat buat orang-orang kesepian. Yang jelas, dengan bayaran yang pasti, meskipun tidak ada kontrak manggung jangka panjang.
Persis ketika masalah etis drama reality mulai membikin sebagian orang tak nyaman, Take Me Out Indonesia hadir. Indosiar menggebrak dengan ajang cari jodoh yang sekaligus kesempatan pamer diri. Sebuah solusi ganda yang jitu atas masalah rasa sepi tadi: [1] pengakuan dan atensi pemirsa, dan [2] dapat pendamping hidup!
Jika zaman dulu orang kesepian masih malu-malu menyodorkan namanya ke biro jodoh—bahkan memakai kode nomor sudah cukup—kini mencari jodoh pun bisa jadi proses yang ingar-bingar dan gemerlap. Tidak perlu malu lagi tampil, berdandan, dan beraksi di depan banyak kamera, di depan jutaan pasang mata pemirsa, dan di bawah nasihat bijak Ustadz Cinta (ya, saya tidak bercanda. Ustadz Cinta). Engkongnya si Doel tadi bisa gelagapan jika istrinya benar-benar ke pasar, terutama kalau pasarnya pasar jodoh seperti Take Me Out. Tidak mau kalah, RCTI turut meluncurkan Pilihan Mama, sebuah ajang cari jodoh juga, yang dimulai akhir 2009 dengan mengadopsi norma lama: mencari jodoh dengan restu orang tua, dalam hal ini ibu.
Yang rada kolot biasanya akan mencibiri kemeriahan ini. “Nyari jodoh kok kayak nari ronggeng. Tidak bisa jaga citra sama sekali.” Mau bagaimana lagi. Jaga citra artinya jaga image (jaim), dan jaim adalah musuh terbesar tayangan televisi. Tampaknya acara Pilihan Mama begitu takut akan ancaman ini, sehingga mereka seperti memaksa kontestannya berekspresi semenjijikkan mungkin. Ya, termasuk para ibu itu. Dijamin acara ini akan membuat banyak pengkritik terdiam. Jika Anda merasa berpikiran ‘modern’, lalu menyayangkan pilihan konservatif Pilihan Mama yang masih mau menuruti kata Mama, cobalah tengok satu episodenya, dan katakan: apakah tingkah mereka konservatif? Jika Anda termasuk golongan berumur (dan mungkin karenanya mengkritik kemeriahan ini), cermati satu episode saja untuk mengerti bahwa generasi Anda-lah yang tingkahnya lupa umur.
Tingkah eksesif dalam Pilihan Mama, saya kira hanyalah tahap lanjut yang wajar dari tuntutan norma broadcast yang bengis. Bukan rahasia lagi, penyelenggara acara akan berbuat segalanya demi mencegah acaranya garing, meski hanya sedetik. Tertayangkannya wajah bengong clueless adalah sebuah dosa besar. Solusi umumnya biasanya dengan hanya memilih peserta yang ekspresif. Solusi putus-asanya adalah menyewa pemain bayaran (yang tentunya murah) untuk meramaikan suasana. Episode Take Me Out pada Oktober 2009 sempat menuai cibiran, karena seorang kontestannya menunjukkan sikap materialistis yang terlampau vulgar dan merendahkan calon-calon pasangannya. Apakah ini sebuah kejatuhan moral? Atau sekadar upaya menayangkan sensasi?
Tampaknya memainkan dinamika antara peserta sungguhan dengan yang bayaran dalam kontes seperti ini menjadi kunci seberapa lama acara akan bertahan. Take Me Out mungkin bisa bertahan lebih lama jika mereka tidak terlampau jelas dalam “menipu” penontonnya. Terlebih, pembawa acara Choky Sitohang membuktikan dirinya mampu mengendalikan suasana. Pilihan Mama gagal sejak semula karena tidak bisa mengatur para peserta ibu-ibu dengan baik. Sejak minggu ketiga Januari 2010, acara ini lenyap dari layar dan informasi mengenainya dihapus dari situs resmi RCTI.
Yang menarik dalam kasus ini: masalah etis yang ditemui dalam drama reality kembali merayap masuk ke dalam acara berformat game show. Implikasi etisnya bisa lebih gawat. Bagaimana mungkin acara yang intinya berupa permainan ternyata direkayasa sehingga berpotensi menimbulkan kecurangan, entah sengaja atau tidak disengaja? Semuanya hanyalah tabir yang berlapis-lapis demi—katanya—memberi kita hiburan bermutu. Jika sampai tahu ini, Baudrillard mungkin akan ongkang-ongkang kaki sambil berucap menyebalkan, “mais oui, sudah kubilang, bukan? Si-mu-la-kra.”
* * *
Sebetulnya, apakah para pencari mimpi yang tidak ingin kesepian itu sepenuhnya dirugikan? Sekilas tampaknya demikian. Ketika muncul berita melaratnya mantan kontestan bintang, pihak televisi lepas tanggung jawab. “Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi,” seorang manajer humas televisi pernah berkata. “Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus.” Ya, yang tidak dikatakan adalah, “kalau melarat risiko sendiri! Tapi terima kasih, lho, sudah meramaikan acara kami.”
Jangan pula singgung soal honor minimum yang pantas, kontrak yang adil, atau perlindungan hukum jenis apa pun yang sepatutnya dituntut dari penyelenggara. ‘Kan masih amatir? Mungkin mereka tidak perlu tahu pula. Biasanya amatir yang sadar akan haknya langsung didepak, dianggap ngelunjak, karena berani merasa diri sebagai bintang. Eksploitasi bintang berbayar murah adalah ladang uang bagi televisi. Memang, sang bintang amatir senang, televisi pun senang. Simbiosis mutualisme? Barangkali. Tapi dengan ketiadaan transparansi tentang nilai tambah, terlanggarnya hak-hak, dan timpangnya nilai transaksi, sesungguhnya ini praktek penipuan besar-besaran atas orang-orang kesepian itu.
Untunglah, tak selamanya siasat datang dari satu arah. Jangan-jangan, para bintang amatir diam-diam sadar bahwa mimpi jangka panjang untuk jadi terkenal sering kandas. Maka mereka merancang ulang strategi: cukup jadi bintang jangka pendek saja, misalnya di drama reality tadi. Atau mungkin ikut Take Me Out saja, meskipun sudah punya pasangan. Bisa saja ada yang masuk hanya demi hadiahnya.
Tarik-ulur antara penyedia mimpi dan pencari mimpi akan terus berlanjut, dan kita biasanya hanya bisa merewelkan efek sampingnya: menyebar virus mimpi kosong, menjangkiti orang dengan hasrat yang tak perlu, dan seterusnya. Sementara itu, pola kejadian demi kejadian menunjukkan, para pencari mimpi yang kesepian itu terus-menerus meredefinisikan target ketenaran mereka ke jangka waktu yang semakin pendek. Mungkin ada yang harus dilakukan sebelum rentang waktu ‘target tenar’ itu menjadi terlalu pendek. Misalnya dengan bunuh diri di mal atau apartemen yang ramai, sebagai sebuah upaya terakhir menuju tenar.
Atau jangan-jangan sudah sependek itu?




Comments
Membicarakan buruknya program televisi kadang memang melingkar-lingkar, rumit, susah diverifikasi mana ekor mana kepala, mana sebab mana akibat. Untunglah masih ada film asing di televisi kita, juga talkshow bagus kayak Kick Andy. walau prosentasenya jelas nggak bisa sebanding dengan program yang jelek-jelek itu. Soal reality show dan drama reality, menurut saya, istilah itu sudah menipu sejak awalnya. Mana ada sebuah "show" atau "drama" yang sekaligus merupakan "reality"? Nggak ada. Saya punya beberapa kawan yang sempat ikut main di reality show dan itu semuanya bohongan. Saya pernah memergoki kebohongan acara John Pantau di TransTV. Saat itu, John Pantau sedang main-main di Pasar Klewer, Solo. Di acara itu dia sedang bertengkar dengan seorang pedagang di pasar itu. Setelah saya perhatikan, ternyata si pedagang itu kawan saya. Dia bukan pedagang di Klewer—jelas-jelas saya tahu hal ini. Ini jelas sebuah pembohongan publik. Pembohongan ini menurut saya perlu dipersoalkan secara serius, digugat kalo perlu. Ini agar TV juga punya etika dan memegang kejujuran saat menayangkan program. Tapi, jangan-jangan, harapan ini juga terlalu mewah buat stasiun TV ya?:D
@Lintang: Terima kasih. Tapi saya kuatir, menyimak Pilihan Mama adalah tanda-tanda pengangguran, bukannya jeli. :D
@Prima Rusdi: hehe, terima kasih. Masukan menarik tuh soal Asrul Sani. Denger-denger dulu beliau pernah bikin beberapa sinetron juga kan ya? CMIIW, tapi sinetron yang kalau nggak salah di SCTV, dan ceritanya tentang gadis dari Bima (NTB) yang merantau, itu buatan beliau bukan? Aku ingat banget, terpikat oleh sinetron drama yang auranya beda dari sinetron-sinetron glamour saat itu, dan penasaran: ini apaan nih, ada sinetron bagus siang-siang? (Jangan-jangan karena bagus jadinya nggak laku, trus ditaruh pas siang)
Perkara menghilangnya bakat-bakat luar biasa ketika booming TV, saya juga bingung euy. Cuma bisa hipotesa-hipotesa saja, kurang data. Sudah baca artikel Karbon yang Fokus 6: Humor di Ruang Kota yang tulisan Isfanani itu? Ada sih sedikit hipotesa di sana. Tapi kurang terjun mendalam lagi.
Mungkin sih, mungkin nih ya, orang-orang berbakat itu kalah gesit dan kalah langkah dari pebisnis-pebisnis yang dengan cepat mengisi boom TV. Nah, kekurangan tenaga broadcast-audio-visual diisinya sama tenaga-tenaga karbitan. Dikombinasikan sama pendidikan yang secara menahun salah arah, sempurnalah sudah.
Tentu ini masih sangat kabur. Malah saya pengen ada masukan lho. Butuh penelitian kesejarahan nih. :)
Keren! JB Kristanto dan Bre Redana sempat berbincang dengan alm. Asrul Sani, ketika saat itu Asrul ngotot menggarap beberapa program televisi di TVRI. Argumen Asrul adalah, 'dapur' televisi justru tak boleh ditinggalkan oleh para pelaku seni/budaya dan kaum terpelajar lainnya, karena ia melihat cara kerja televisi (baca: penyebaran informasi via medium televisi) bak jarum suntik yang bekerja dengan cepatnya ke khalayak penonton. Jadi, memperlakukan medium televisi sebagai sarana yang bisa memberikan alternatif tontonan/informasi, bagi Asrul, sangatlah penting. Karena, menurut Asrul, televisi sebetulnya adalah sarana yang paling terjangkau bagi sebagian besar kalangan terpelajar/pelajar, pelaku seni/budaya—yang dalam istilah dia—justru kesulitan mengakses informasi yang harus diperoleh dengan 'mahal' (Wawancara itu ada di dalam salah satu buku karangan JB Kristanto, Nonton Film Nonton Indonesia [Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2004], dan pernah dimuat di Kompas pada 1974). Membaca kolom Ifan, saya jadi teringat wawancara itu dan mulai bertanya-tanya juga, inikah hasil dari hilangnya orang-orang yang sebetulnya punya kapasitas dan diperlukan untuk ada di 'dapur' televisi, tapi sayangnya mereka tidak ada? Kalau Ifan mau menjawab, jangan-jangan lebih keren lagi dari kolomnya yang ini. Meskipun mau 'menggugat' soal lain, ya silakan. Ringkasnya, cari kolom yang kolom 'betulan', atau esai atau tulisan yang betul-betul memiliki isi sungguh sulit—di hari 'gini'.
Hihi.... Menarik dan jeli sekali analisa Anda tentang acara Pilihan Mama, penting sekali mencermati "simulakra" itu karena biarpun berawal dari hal yang kolot, tetap saja semuanya buatan, dan menilainya lalu jadi sangat rumit. Kolom Anda menarik sekali, akan saya ikuti setiap bulannya:)