SEBELUM SAYA mulai mengoceh, saya ingin berkata jujur. Saya seorang voyeur. Dan saya yakin, diakui atau tidak, masing-masing dari kita adalah voyeur dalam satu dan lain hal.
Hidup di Jakarta yang metropolis, rasa bosan menjadi anggota masyarakat yang medioker mengombang-ambingkan saya antara kenyamanan taksi ber-AC dan panas dari celah antar-penumpang yang berjarak kurang dari satu sentimeter dalam bus-bus umum atau angkot. Antara kafe-kafe gemerlap dan warung-warung kaki lima; antara percakapan kecil dalam pesta sosialita bersama para crème de la crème mengenai koleksi seni terbaru mereka dan obrolan di gang sempit dengan anak-anak kampung yang meniru mentalitas Pak Ogah kakak-kakak mereka sebagai cara membunuh waktu saat liburan sekolah. Dan yang paling ekstrem, keadaan ini mengombang-ambingkan saya di antara kenyamanan di rumah kelas menengah yang saya sewa dan tempat tinggal berlantai tanah berdinding gedek yang disebut rumah oleh para penduduk di kawasan kumuh.
Lalu, apa alasan saya melakukan hal ini?
Sebut saja ‘keingintahuan’, kalau Anda ingin alasan positif. Saya tetap menyebutnya voyeurism. Jalan keluar gratis dari keterjebakan di tengah-tengah, dengan profesi jurnalistik saya untuk membenarkan hal itu.
Yang saya sebut terakhirlah yang membedakan saya dari orang-orang yang tergoda mengeluarkan beberapa dolar dari kantong mereka untuk ikut dalam wisata kota “eksotis” yang disebut Jakarta Hidden Tour ini. Mungkin seperti saya juga, mereka sama penasarannya, sama bosan, dan sama terjebaknya dalam kelas tempat mereka ditaruh oleh masyarakat.
Meski saya bisa bilang bahwa saya sama asingnya di kota saya sendiri, pernyataan ini lebih sahih bagi para ekspatriat yang sering tidak memiliki privilese untuk mengetahui cara mencapai berbagai sisi Jakarta yang berbeda. Sisi tersembunyi, begitulah ia ditabal oleh organisator wisata, meski kenyataannya tampak di hadapan Anda sehari-hari. Dan kita masih mengabaikan kendala bahasa yang nyata terjadi. Semua itu adalah alasan keberadaan poorism, istilah yang sekarang digunakan luas untuk dengan skeptis mengacu kepada kegiatan berwisata di daerah-daerah miskin sebuah kota.
SEORANG VOYEUR DALAM HIDDEN JAKARTA
Tumpangilah Poorism Enterprise—usaha wisata kemiskinan—dan ia akan membawa Anda ke tempat-tempat yang tidak pernah dikunjungi wisatawan sebelumnya. Beginilah cara bekerjanya di Jakarta. Hubungi Ronny Poluan, pemrakarsa Jakarta Hidden Tour, untuk mengatur jadwal. Anda akan menjumpai perjalanan tiga jam di Kampung Luar Batang Jakarta Utara, tepi sungai Ciliwung Jakarta Selatan, atau pinggir rel kereta Galur di Jakarta Pusat, yang terdapat dalam daftar menu. Pilihan wisata sehari penuh juga tersedia bila dahaga Anda akan petualangan berada di titik puncak.
“Silakan kenakan sepatu atau sandal yang kuat dan jangan pakai pakaian terbaik Anda. Anda mungkin akan melihat keadaan di antara warga itu tak semenyenangkan atau senyaman dibandingkan dengan apa yang biasa Anda jumpai. Bapak-bapak, tolong jangan mengenakan celana pendek dan kaus oblong. Ibu-ibu, tolong berpakaian sederhana,” begitu nasihat di laman Jakarta Hidden Tour.
Jangan khawatir, Anda tidak harus mengunjungi kawasan kumuh tersebut langsung sendirian. Kita akan bertemu di hotel, kafe, atau di lobi kantor, entah di Sudirman, Thamrin, atau Kuningan, dan dari sanalah petualangan bermula. Bagi mereka yang masih merasa tidak nyaman, perjalanan bus umum dari titik pertemuan menuju daerah kumuh akan menjadi semacam proses penyesuaian.
Dalam satu sesi, Ronny mengajak sejumlah ekspatriat yang bekerja di badan bantuan pembangunan, ke kampung di tepi Sungai Ciliwung, bertemu dengan Ketua RT, berbincang dengan guru-guru dari sekolah dasar negeri, dan mengajukan pertanyaan untuk para dokter di pusat kesehatan masyarakat. Kedua tamu dari Australia tampak bersemangat mencari tahu lebih rinci mengenai persoalan yang dihadapi masyarakat miskin, masalah-masalah mendasar seperti kebutuhan akan air bersih, masalah yang tidak pernah mereka hadapi di negeri mereka sendiri.
Di Sanggar Ciliwung, demi mendengar cerita-cerita betapa para anggota masyarakat setempat mengelola sendiri pembuatan kompos dari sampah dan menyediakan pendidikan non-formal untuk anak-anak, kedua peserta wisata itu tampak lebih takjub lagi.
Di sela-sela pembicaraan serius seperti disebutkan di atas, ada pertukaran senyum dan salam. Dan bunyi klak-klik dari kamera saku para peserta wisata.
“Hey, Mister! Mampir sebentar, Mister!” seru anak-anak. Seorang ibu yang tengah menyuapi bayinya di pojok jalan tersenyum bangga saat si peserta wisata mengelus rambut putrinya sambil berkata betapa manisnya bayi perempuan itu. Anak-anak muda yang tengah bersantai di pojok yang lain mengamati para bule dari jauh dan mulai terkikik. Dalam tiga jam itu, dua dunia terjalin. Keduanya sama asingnya satu sama lain. Masing-masing adalah pertunjukan bagi mata yang lain.
Dan kali ini pertunjukannya bergerak lebih jauh daripada layar televisi yang menyiarkan reality show semacam Bedah Rumah—yang mengintip gubuk reyot di bawah standar lalu merenovasinya. Saya tidak tahu mana yang menginspirasi siapa dalam kasus wisata kemiskinan dan reality show ini. Yang saya tahu dari melihat orang-orang yang menonton Bedah Rumah dan orang-orang yang ikut serta dalam Jakarta Hidden Tour adalah bahwa kedua hal itu membangkitkan rasa “kasihan mereka, beruntungnya aku” dalam pikiran para voyeur itu. Bedanya adalah bahwa para penonton (acara TV) hanya menyimpan pikiran itu untuk mereka sendiri, sementara para wisatawan naik ke tingkat yang lebih interaktif.
Hmm, kalau dipikir-pikir mungkin suatu hari nanti para pengembang akan menghadirkan versi virtualnya. Tahu kan, seperti permainan The Sims yang bertempat di daerah kumuh.
Dalam kesempatan wisata lain di Kampung Luar Batang, tiga perempuan Australia menghabiskan satu jam sebagai tamu di rumah sebuah keluarga beranggotakan empat orang yang telah tinggal di area rawan banjir selama 22 tahun.
“Satu hal yang sangat mengesankan bagi saya adalah melihat para gadis muda itu bersikap seperti putri saya yang usianya sama—tas tangan dan sepatu hak tinggi, siap untuk berbelanja!” kata Lani, salah seorang peserta. “Sangat menarik. Ada banyak cara melihat Jakarta, tapi tur ini memungkinkan Anda berkunjung masuk ke bawah permukaan dan bertemu dengan banyak orang sebagai rekan setara, orang-orang yang tidak bakal Anda temui sebagai wisatawan bila bukan dengan cara ini,” katanya. “Cukup menyegarkan untuk keluar dari semua pusat perbelanjaan itu.”
Nah, mengerti kan sekarang? Itulah yang saya bicarakan sejak awal. Bagi kami—Lani, saya, dan mungkin Anda—keikutsertaan dalam wisata ke tempat miskin hanyalah bentuk lain dari keingintahuan tentang sisi kehidupan yang berbeda. Tak peduli apakah kita melakukannya sendiri atau lewat agen wisata. Kalau kita mau mengakuinya, melihat hal-hal tersebut sering membuat kita merasa lebih beruntung daripada orang lain meskipun banyak ketidakpuasan terhadap hidup kita sendiri.
Dengan wisata kemiskinan, keingintahuan, paling tidak di satu sisi, terjawab. Tanggapan di sisi lain bervariasi dari pendapat ringan “aneh melihat bule di sini” hingga yang agresif “jangan melanggar ruang kami.”
“Menyenangkan bila mereka mengunjungi kami sesekali. Lebih bagus lagi kalau mereka dapat menyediakan yang kita butuhkan,” seorang penduduk kampung Ciliwung berkomentar. “Orang jarang menolong kami. Jadi, kalau beberapa bule datang dan memberi kita sesuatu, buat apa ribut?” kata yang lain.
Tapi, tidak semua orang menyambut orang asing dengan pancaran harapan di mata mereka. Harian Kompas mengutip penduduk Galur yang berkata “Apa maksud mereka ke sini? Jangan membuat kami semacam tontonan, hidup kami sudah cukup keras.”
Di sinilah menariknya. Setiap orang yang terlibat akan selalu diam-diam bertanya, “apa untungnya buat saya.” Mereka yang mendukung berkata bahwa tur ini hanya cara lain menghadirkan kenyataan dan memancing rasa sensitivitas sosial di antara mereka yang jarang—kalau memang pernah—punya kesempatan berinteraksi dengan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Paling tidak, itulah yang diajukan pengelola wisata sebagai alasan bagi usaha kreatif mereka.
“Saya hanya ingin orang-orang kampung memiliki kesempatan bertemu dan berbincang dengan orang yang umumnya tidak bisa mereka temui. Dan dari sana, siapa tahu para wisatawan itu nanti dapat membawa sesuatu untuk menolong orang-orang miskin itu,” kata Ronny yang menjalankan wisata ini di bawah Yayasan Interkultur.
“Banyak orang tidak pernah tahu apa arti menjadi miskin. Ini adalah salah satu cara mengenalkan orang-orang itu kepada dunia nyata,” kata Robert Finlayson, seorang penasihat yang disediakan oleh Volunteering for International Development from Australia (VIDA) untuk membantu Jakarta Hidden Tour.
Ronny, pembuat video dokumenter, muncul dengan gagasan ini setelah seorang temannya menyarankan agar ia mengangkat kebiasaannya sebelumnya ke “tingkat profesional”. Ia sebetulnya telah memulai kebiasaannya bertahun-tahun lalu dengan mengajak orang, umumnya seniman asing, ke kampung-kampung di Jakarta secara gratis, sebagai teman. Salah satu hasil wisatanya adalah film dokumenter karya Leonard Helmrich yang menang penghargaan, berjudul Eye of the Day dan Shape of the Moon, kata Ronny.
Memenuhi tantangan itu, Ronny memulai program ini bersama istrinya, dengan menarik biaya sebesar USD56 untuk dua orang untuk mengunjungi salah satu tempat. Biaya ini bisa mencapai USD330 untuk tur satu hari penuh untuk 4 orang, untuk mengunjungi ketiga tempat sekaligus.
Sepertiga dari biaya itu untuk membayar para pemandu—yang sekarang ini adalah dirinya sendiri, istrinya, dan Robert; 17 persen ditujukan untuk LSM Ronny; 15% diberikan sebagai donasi untuk para keluarga dan lembaga masyarakat yang mereka kunjungi; dan sisanya digunakan untuk membayar biaya-biaya para peserta tur. Tapi, dalam wawancara selanjutnya Ronny berkata bahwa pemasukan yang dia dapatkan dari setiap tur dibagi dua antara pengelola wisata dan komunitas.
“Saya bangkrut dan harus mencari cara untuk mencari nafkah; suatu cara yang saya harap juga bisa menolong orang lain,” kata mantan pembuat film dokumenter ini saat ditanya alasannya memulai bisnisnya yang agak tidak biasa pada awal tahun ini.
Jawabannya yang terus terang namun diplomatis membuat saya bertanya-tanya berapa banyak anggota kelas menengah bakal merangkul pendekatan serupa dalam membisniskan kemiskinan. Kalau saya bangkrut, apa yang mencegah saya—atau orang lain—melakukan hal yang dilakukan oleh Ronny?
Maksud saya, mencari nafkah sambil menolong—atau sekadar mendaku menolong—orang lain, itu terdengar hebat, bukan? Tapi, bila dipikir-pikir lagi, betapapun bangkrutnya saya, saya mungkin akan tidak mampu menatap diri saya di cermin, tahu bahwa yang saya lakukan lebih merusak ketimbang membawa kebaikan. Bukan, Ronny, saya mengatakan ini bukan untuk menyerang Anda dengan sengaja. Itu cuma perasaan saya tentang tur ini. Kita semua bebas memilih dalam hidup ini, bukan?
Kritikus seperti pemimpin Sanggar Ciliwung Sandyawan Sumardi atau aktivis Urban Poor Consortium Wardah Hafidz cemas dengan metode bantuan langsung tunai yang dilakukan Ronny, dan mengatakan bahwa hal itu cenderung merusak karena dengan demikian orang-orang miskin itu menjadi bergantung pada bantuan dan bukannya mewujudkan potensi mereka sendiri dengan cara yang lebih berkesinambungan.
Para ahli makro-ekonomi dan pembangunan sesungguhnya telah berkutat dalam masalah ini selama beberapa dasawarsa. Sebagian berpendapat ekstrem dengan mengatakan bahwa gagasan pembangunan sendiri harus dipikirkan masak-masak. Bantuan macam apa yang paling memberi dampak berkesinambungan? Kalau seseorang begitu miskin dan memiliki tumpukan utang—seperti kasus orang-orang miskin di negara-negara berkembang di Asia dan Afrika, berapa lama sejumlah uang itu bisa bertahan untuk membantu mereka keluar dari kehidupan di bawah standar? Bagi saya, ini bukan masalah berapa banyak. Ini soal bagaimana.
Terlepas dari berbagai perdebatan, apa yang dilakukan Jakarta Hidden Tour memang betul-betul langsung. Di akhir kunjungan selama Tur Ciliwung, misalnya, istri Ronny menyerahkan sebuah amplop berisi uang Rp150.000,00 kepada petugas RT, para guru di sekolah dasar, dan seorang perempuan yang membantu mengumpulkan warga Ciliwung untuk bertemu wisatawan. Pertanyaan para pengelola tur masih berputar soal berapa banyak dan bukan bagaimana, meskipun kemudian Ronny berkata bahwa sebagian uang yang ia hasilkan telah digunakan untuk membuat perpustakaan di komunitas yang dikunjungi para wisatawan.
Pada wisata yang berbeda, amplop Ronny terbang ke tuan rumah yang membuka pintu rumahnya untuk menyediakan percakapan setengah jam dengan para wisatawan. Membuka pintu rumahnya? Begitu saja?
Yah, kata orang, privasi adalah keistimewaan. Hak istimewa yang ditukar dengan sejumlah barang dan status yang dimiliki seseorang dalam masyarakat. Saya tidak dapat berpikir ada jutawan yang mau membuka pintu rumah mereka untuk orang miskin yang ingin melongok, kecuali mungkin keluarga Kardashian atau Paris Hilton. Lihat kan, memang tidak perlu ada “tur ke rumah orang kaya”, MTV dan E!Channel telah melakukannya untuk kita. Dan banyak lagi opera sabun kacangan yang memotret kehidupan orang berpunya untuk mereka yang tak punya sebanyak itu.
Pertunjukan itu seakan-akan berkata “Lihatlah, orang-orang kaya juga punya masalah dalam hidup mereka.” Ayolah, kita semua juga punya masalah, tak peduli berapa banyak uang yang kita miliki di dompet dan rekening kita. Tapi, lagi-lagi, adagium “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau” memang ada karena suatu alasan. Amatlah manusiawi membandingkan hidup kita dengan orang lain terlebih dahulu—entah yang secara finansial lebih beruntung atau lebih miskin—sebelum kita bersyukur atas apa yang kita miliki dalam hidup.
Sebelum era booming kelas menengah, peniruan terhadap orang-orang berpunya membentuk pasar. Sekarang, di era booming daerah kumuh, ceruk pasar lain terbentuk.
Sekarang, reality show seperti Bedah Rumah sebetulnya juga melakukan hal yang sama untuk kita. Bedanya adalah, dengan wisata kemiskinan kita membayar untuk sungguh-sungguh mengintip. Saya masih tidak dapat membayangkan ada wisata ke rumah sosialita Jakarta. Kebutuhan akan privasi terkadang dibentuk sedemikian rupa sehingga si miskin yang telah menjadi obyek wisata kemiskinan merasa bahwa masih layaklah bila mereka menukar privasi dengan apa pun yang bisa menutup kebutuhan mereka sehari-hari. Privasi mungkin ada di baris terakhir daftar kebutuhan mereka.
Ada kebutuhan yang lebih penting lagi. Bertahan dari keterpinggiran.
Maka sebagian dari mereka tidak berkeberatan membuka rumah mereka untuk para voyeurbila itu membantu mereka bertahan hidup, sebab sudah sejak lama kelangsungan hidup mereka dibiarkan di tangan mereka meskipun ada pihak otoritas urban.
Area kumuh lebih daripada sekadar fenomena. Area kumuh adalah realitas, kenyataan yang dengan susah payah harus dihadapi pihak berwenang di mana pun. Namun, memang ada beberapa cara menghadapinya. Kebanyakan pemerintah urban mengambil jalan pintas dengan menyembunyikan masalah ini sambil menyitir keterbatasan finansial sebagai alasan.
Lucu juga tanggapan pihak berwenang atas fenomena poorism yang baru di Jakarta ini. Mereka menghindarinya dengan alasan yang jauh berbeda dari alasan para kritikus seperti Sandyawan atau Wardah Hafidz. Baru-baru ini, pihak berwenang di Jakarta menyebutnya “mengungkap keburukan negara sendiri”, “menciptakan citra buruk bagi pariwisata kota”, dan “harus dilarang”. Modernitas, bagi mereka, tampaknya setara dengan gambaran jalan-jalan yang rapi dan gedung pencakar langit yang gemerlap. Jadi, apa pun yang tidak sesuai dengan gambaran itu pasti salah, tanpa mereka sungguh-sungguh berusaha menghadapi akar masalah.
Yah, begitulah biasanya kita menghadapi sesuatu yang dianggap tidak layak. Larang saja!
Dengan segala hormat pada pemerintah kota, saya tahu tidak mudah mengatur sebuah kota. Apalagi, kota tempat masyarakat elite dan wilayah kumuh hidup berdampingan dan ketidaksetaraan tak harus diukur dengan koefisien Gini. Tapi, tentu saja, di kota sekompleks Jakarta—atau Mumbai, Sao Paolo, dan Lagos—peraturan tidak berarti apa pun tanpa tindakan serius.
Poorism hanyalah sebuah indikator. Suara alarm bahwa ada sesuatu yang tidak benar.
POORISM, SEBUAH FENOMENA GLOBAL
Poorism atau wisata kemiskinan bukanlah hal baru dalam dinamika urban. Ia telah ada sejak daerah kumuh pertama kali muncul di abad ke-19 di Inggris yang sedang berubah menjadi negeri industri. Ensiklopedia daring Wikipedia mencatat bahwa rekreasi ke area kumuh telah populer di London masa Victoria, ketika naik bus di sepanjang Whitechapel menjadi tren. Hal serupa, tur ke tempat kumuh, didokumentasikan di area kumuh Five Points di Manhattan pada 1840-an.
Apa yang dilihat oleh dunia urban abad ke-20 hanyalah bentuk lebih canggihnya.
Sebut saja itu wisata kemiskinan, wisata kampung kumuh, ber-kumuh-ria, atau label apa pun, ia pada dasarnya adalah bisnis yang membawa para turis ke dalam kota yang buruk, memberi sekilas pengetahuan tentang bagaimana hidup di bawah jembatan layang, di sepanjang sungai terpolusi, dan tinggal hanya berjarak beberapa inci dari rel kereta.
Lebih dari satu dekade yang lalu, Marcelo Armstrong mendirikan Favela Tour, perusahaan yang mengajak turis ke favela atau area kumuh Rio de Janeiro. Turis membayar sekitar USD35 untuk melihat kemiskinan dari dekat dan belajar tentang masyarakat Amerika Selatan.
Dengan favela yang sekarang menjadi komoditas turis layaknya samba Brazil, layanan live-in menjamur di sana, menawarkan lebih daripada sekadar beberapa jam mengintip kemiskinan. Mereka menamakannya favela chic, favela bergaya!
Hal yang sama dapat dilihat di Soweto di Johannesburg atau Cape Town, di sepanjang lorong Dharavi yang berliku-liku di Mumbai, bahkan di ghetto-ghetto di New York City. “Wisata realita” yang mengunjungi area kumuh terbesar di Mumbai, mengklaim sebagai wisata dan agen perjalanan unik yang berusaha membantu “menghapuskan pandangan negatif yang dimiliki banyak orang tentang Dharavi”.
Yang membuat Ronny berbeda dari yang lain adalah hasil akhir bagi si miskin. Sementara para kritikus mencerca konsep komodifikasi kemiskinan untuk wisata, Favela Tour dan tur di Dharavi memberi dana untuk kegiatan komunitas. Perusahaan tur di Brazil dan India mengelola sekolah komunitas dari dana yang mereka hasilkan dari wisata, satu hal yang masih belum dilakukan Jakarta Hidden Tour.
Para teoretikus urban berkata bahwa penduduk kota harus berjuang untuk hak mereka atas kota. Tak peduli apa kelas sosial mereka. Meski terdengar konyol, poorism adalah salah satu manifestasinya.
Poorism adalah sejenis permainan nakal bagi “hak atas kota.” Hak untuk melihat, merasa, dan mengalami—betapapun singkatnya—sisi lain kota-kota berkembang yang selama ini disembunyikan. Tumpukan kotoran yang, tak peduli betapa keras usaha orang untuk menyingkirkannya, akan terus muncul.
Sesuatu yang tersembunyi selalu memercikkan keingintahuan. Keingintahuan dalam diri kita, sang voyeur dalam diri kita, membantu memelihara eksistensi kegiatan semacam wisata kemiskinan.
Dukunglah, tentang, abaikan, hakimi, atau bahkan rayakanlah poorism (favela chic hanyalah salah satu contoh). Kita boleh memilih apa pun sikap yang kita mau tentang masalah poorism ini. Tapi poorism jauh lebih kompleks daripada sekadar mengambil sikap dalam hal dinamika urban sekarang ini.
Dengan segala kompleksitasnya, dunia dapat disederhanakan menjadi elemen-elemen pasar yang mendasar: permintaan, persediaan, dan orang-orang dengan percikan kreativitas nakal akan diuntungkan dari dua hal tadi. Debatlah sesuka Anda, tapi penjelasan itu membantu saya secara sebagian menerangkan soal tren poorism, apa pun pembenaran yang dikemukakan para pelakunya kepada para pendukung atau pengkritik mereka.
Belakangan ini, segala hal adalah komoditas. Juallah yang tidak dapat dicuri orang lain dari Anda: diri Anda sendiri, dan segala yang menyertainya.
ANISSA S. FEBRINA. Selama lima tahun terakhir bekerja untuk The Jakarta Post, dia menggunakan jurnalisme sebagai medium belaka—dan tentu saja, pembenaran atas kecenderungan voyeuristisnya—guna memahami tempat yang dicintainya: Jakarta. Setelah menyelesaikan masternya di Urban Management di TU Berlin, Jerman, dia merasa bahwa sudah waktunya ia bergerak maju. Sekarang, melabel dirinya sebagai pekerja paruh waktu, dia terlibat dalam proyek penulisan dan riset jangka pendek, masih dalam lingkup dunia urban.
Diterjemahkan oleh Mariana Ariestyawati; lahir di Jakarta lebih daripada 30 tahun lalu. Sebetulnya bercita-cita menjadi penyanyi, tapi sering mendapat protes dari orang-orang di sekitar. Demi kemaslahatan bersama ia lalu berkonsentrasi pada dunia tulis-menulis. Selepas kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ia lebih sering menerima pekerjaan yang tidak mementingkan suara seperti penerjemahan, penyuntingan, atau penulisan.
Pengintip dalam diri kita, ketika rok kemiskinan tersingkap
Pengintip dalam diri kita, ketika rok kemiskinan tersingkap
Anissa S. Febrina
22 February 2010

Foto-foto © Jakarta Hidden Tour
Voyeur: orang yang mendapat kenikmatan dengan melihat derita orang lain.
(Concise Oxford Dictionary 10th edition)
2010
Yosafat Hermawan Trinugraha
Farid Rakun - Ardi Yunanto
Anissa S. Febrina
2009
Pradaningrum Mijarto
Haris Firdaus
Ifan Adriansyah Ismail
Irma Chantily
Mahatmanto
2008
Ronny Agustinus



Comments
Elsara dan Anissa,
Bila kita melihat dari sudut pandang moril diri kita sendiri, memang sulit menerima fakta bahwa keadaan yang memprihatinkan kok malah dijual? Tapi, mungkin membantu dengan melihat 2 hal:
Pertama, secara sejarah, ini bukan pertama kali dilakukan. Dari dahulu kala manusia memang suka 'menonton' apa yang asing buat kita [lihat contoh kasus Ota Benga.] Bedanya, bila mungkin dahulu ada embel-embel 'penelitian' sebagai tujuan, sekarang ini embel-embel itu menjadi 'duit', seperti yang terjelaskan di atas. Tapi sebentar, tulisan ini tak akan ada bila tur tersebut tak ada. Penelitian Anissa mungkin akan tetap ada, mengambil topik lain, tapi apakah akan jadi sama menariknya? Satu hal mendasar yang merupakan perbedaan masa lalu dan sekarang mungkin adalah apa yang sedang kita lakukan lebih 'mengenal' diri kita sendiri, bukan lagi 'meneliti' sesuatu yang di luar kita.
Kedua, apa yang sedikit disiratkan oleh tulisan ini, yaitu sebenarnya manusia [sekarang] sedang menonton. Yang terjadi di kasus ini sebenarnya adalah saling menonton. Siapa bilang bule dan orang-orang kaya ini tidak menghibur untuk penghuni kelas di bawahnya? Masalahnya adalah kita meletakkan 'subjek' dan 'objek' penderita di sini, sehingga dengan otomatis kita berpikir bahwa si miskin adalah 'korban', si turis adalah 'pengganggu' yang 'mau tauuuu aja.'
Sedikit tambahan, ada tautan yang mungkin bisa dipakai untuk melanjutkan diskusi ini - mengenai reality show. Pertama di Vanity Fair, yang kedua di Times.
tQ,
[...] Tapi, bila dipikir-pikir lagi, betapapun bangkrutnya saya, saya mungkin akan tidak mampu menatap diri saya di cermin, tahu bahwa yang saya lakukan lebih merusak ketimbang membawa kebaikan. [...]
I'm with you, Anissa.
Atas dasar apapun, saya belum bisa menerima kehadiran paket tur ini. Tanpa diperjual-belikan secara gamblang pun, kemiskinan selalu menjadi komoditi yang seksi bagi media. Tujuan awalnya untuk mengingatkan pemerintah bahwa mereka masih punya tanggungan masalah yang sepertinya tak akan pernah selesai—seperti sinetron Tersanjung dulu dan yang sekarang 'dilanjutkan' oleh Cinta Fitri. Meski pada perkembangannya, kemiskinan semakin diseksi-seksikan oleh konco-konco di departemen kreatif stasiun TV sehingga akhirnya melahirkan—secara sungsang—program-program semacam Bedah Rumah. Belum lagi ditambah 'kemiskinan kemasan botol' yang menjadi jualan utama menjelang pemilihan umum. Kemiskinan tidak akan sirna hanya dengan pemuatan berita di media massa. Memang. Memberi recehan di setiap lampu merah bukan solusi terbaik mensejahterakan si miskin. Memang. Masalah kemiskinan harus dilihat secara multidimensional. M.E.M.A.N.G. Tapi menjadikan mereka tontonan layaknya uwak di Ragunan juga bukan tindakan terpuji. Kalau ujung2nya diberi santunan juga, ya sudah, beri santunan saja tanpa embel-embel seperti umbul-umbul saat Pilkada. Pakai hati sedikit kalau mau berbisnis. Sepertinya akan jauh lebih baik dan beradab kalau para peserta tur diganti oleh individu-individu dengan keahlian tertentu untuk memberikan pelatihan di area kumuh tersebut. Contoh paling dasar, membuat barang jadi dari bekas bungkus makanan lalu dijual. Dan pada akhirnya, saya harap saya tidak ikutan bangkrut. Sama berharapnya dengan saya yang tidak ingin menjual penderitaan (dan harga diri?) orang lain demi (mungkin) beberapa lembar seratus ribuan. Habisnya nggak lama, kepikirannya bisa seumur hidup. Salah-salah bisa mengkarbonmonoksidakan diri seperti Kevin Carter!