Gita Hastarika
18.07.2011

Seni membingkai kehidupan, atau kehidupankah yang merangkai seni? Gita Hastarika mencoba menjawab pertanyaan ini lewat sebuah potret roman perkotaan—hasil interaksi pengunjung dengan sebuah karya seni di Galeri Nasional Indonesia. Dengan tidak menonjolkan salah satu pertanyaan tentang mana yang lebih penting, pengalaman subjektif pengunjung atau arti karya sang seniman, tulisan ini mengharapkan setiap orang untuk dapat memilih jawabannya sendiri melalui proses membaca.

Deasy Elsara
11.03.2011

Karya-karya street art yang selama ini kebanyakan hanya berupa coretan-coretan nama alias dan karakter-karakter karangan, pada akhir 2010 lalu tampil beda di Jakarta. Sejumlah karya yang beberapa di antaranya masih bertahan tersebut menanggapi permasalahan ibukota dengan berbagai pendekatan. Menempuh jalanan di tengah malam, menggambar, mencoret, dan menempel dengan cepat, tujuh individu dan kelompok seniman muda street art menorehkan aspirasi dan kritik mereka. Penulis Deasy Elsara mengulas karya-karya mereka untuk Anda.

Farid Rakun
26.09.2010

Pada Mei – Agustus 2010, desainer Irwan Ahmett dan Tita Salina menanggapi ruang publik Jakarta melalui proyek Urban PLAY mereka. Sembilan karya yang dokumentasi videonya ditayangkan secara berkala di situs Desain Grafis Indonesia ini, menampilkan kepercayaan mereka bahwa sisi nakal dan kekanak-kanakan warga harus dimunculkan kembali demi mengeluarkan karakter Jakarta itu sendiri. Redaktur kami, Farid Rakun, dengan kritis mengulas seri karya-karya yang inspiratif ini untuk Anda.

Marto Art
26.08.2010

Bulan Agustus selalu dirgahayu. Terkenang pekik "Merdeka!". Namun Marto Art justru merenung, menimbang, dan mempertanyakan nilai nasionalisme pemuda masa kini. Tokoh wayang kuna lakon Ramayana dan Mahabharata: Kumbakarna, Wibisana dan Basukarna, ia analogikan demi melihat psikologi sosial pemuda mutakhir. Keblingerkah nasionalisme kita? Di antara pemuda bela negara, pemuda keyakinan, dan pemuda gelisah saja?

Hera Diani
13.07.2010

Barack Obama adalah tokoh yang mengundang banyak kontroversi, terutama bagi Jakarta, kota di mana ia sempat menghabiskan sebagian masa kecilnya. Sejarah singkat itu sempat diabadikan melalui sebuah patung Obama cilik yang kemudian ditentang banyak pihak. Apa yang sebenarnya terekam oleh keributan ini? Politik global lawan nasionalisme? Cita-cita monumentalisme bertubrukan dengan inferioritas? Hera Diani membahasnya untuk Anda.

JJ Rizal
24.06.2010

Sejarah dalam diorama Monas adalah hasil rekayasa politik Orde Baru. Sementara selama puluhan tahun, jutaan pengunjung, termasuk anak-anak dari seluruh penjuru tanah air Indonesia yang diwajibkan melalui program sekolah, telah dan masih menyaksikan bualan sejarah Indonesia yang sangat militeristik itu. Sejarawan JJ Rizal membahas bagaimana dan mengapa penyelewengan sejarah dalam diorama itu dapat terjadi.

Yosafat Hermawan Trinugraha
06.04.2010

Setelah kerusuhan Mei 1998, kampung-kampung di Solo mengurung diri. Pagar-pagar yang tampak mengayomi itu, diam-diam terus melupakan kenyataan sesungguhnya. Bagi Yosafat Hermawan Trinugraha, adanya lawang kampung sangat janggal di tengah ingar-bingar keberhasilan penataan kota Solo yang ramah pada wong cilik. Kampung adalah benteng terakhir pluralitas kota. Mengurung kampung hanya membuat ingatan yang dipagarinya, suatu saat akan memberontak.

Farid Rakun - Ardi Yunanto
22.03.2010

Gedung Bekas Kantor Imigrasi di Jakarta Pusat sungguh babak-belur. Ia ditelantarkan, diperebutkan, dijarah, dijual, dibeli lagi, lalu begitu saja dijadikan Buddha Bar. Sekarang, setelah pemberitaan mengenai gedung itu mereda, apakah berarti masalah juga sudah selesai? Dan apa yang masih bisa kita lakukan untuk menyelamatkannya? Jurnal Karbon mewawancarai Pradaningrum Mijarto, seorang pemerhati bangunan bersejarah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Anissa S. Febrina
22.02.2010

Hidden Jakarta, paket wisata anti-kemewahan, adalah perkembangan mutakhir dari kondisi pasar yang nista namun elok, di mana segalanya bisa dijual. Anissa S. Febrina, yang memutuskan untuk menggali lebih dalam sisi voyeuristis-nya, mencoba menjelaskan fenomena ini dengan menjajal wisata kemiskinan. Dengan mempertimbangkan interaksi subyek-obyek yang terjadi di sepanjang proses, esai ini juga dapat dibaca sebagai sebuah hidangan pembuka.

Pradaningrum Mijarto
15.11.2009

Kota Tua Jakarta adalah sang “Ratu dari Timur” yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Namun pada 2008, Taman Fatahillah sempat dijadikan areal parkir untuk pesta pernikahan besar yang bertempat di Museum Seni Rupa dan Keramik. Pradaningrum Mijarto, mengulas kondisi “sang ratu” yang tidak jelas, akibat terlalu banyak kepentingan dan ketidakpedulian terhadap upaya mengembalikan “sang ratu”.

Haris Firdaus
03.10.2009

Dari larangan menggunakan busana a la Eropa bagi murid pribumi STOVIA, heboh pemakaian jilbab pada 1979 - 1991, hingga riak-riak kecil perlawanan siswa atas seragam sesudahnya, seragam sekolah selalu mengundang masalah. Haris Firdaus tak hanya menuturkan sketsa perlawanan tersebut, ia juga mengamati tren seragam di kota Solo, dan menggunakan tiga film Indonesia dari zaman berbeda untuk kemudian mencoba merumuskan lima jenis perlawanan atas seragam sekolah.

Grace Samboh
26.08.2009

Grace Samboh bukan asli Yogya, namun ia merasa risih melihat bagaimana kota-tinggalnya digambarkan. Melalui esai ini, ia memaparkan bagian-bagian yang janggal dari film-film buatan sutradara yang menurutnya tak jengah terus-menerus menjadi turis lokal di Yogyakarta.

Ifan Adriansyah Ismail
27.06.2009

Film Taksi (Arifin C. Noer, 1990) yang dibintangi Rano Karno dan Meriam Belina, meraih 6 piala Citra pada masa ketika perihal kota merebut sudut pandang, ketika pandangan yang ‘Jakarta-sentris’ semakin mengukuhkan diri. ‘Suara’ manakah yang direkam oleh Taksi di dalam narasinya, dan bagaimana film Taksi merekam jejak sejarah ruang kota di Jakarta? Ifan Adriansyah Ismail mengulasnya untuk Anda.

Irma Chantily
29.05.2009

Bekerjasama dengan fotografer keliling Monumen Nasional (Monas), Daniel Kampua memilih karya foto mereka dan memotret mereka dalam sebuah pose bersama, hasilnya dipamerkan di Monas sepanjang Februari 2009 lalu. Berikut ulasan Irma Chantily atas berbagai interaksi baru antara Monas, pengunjung, dan fotografer keliling dalam proyek fotografi ini.

Mahatmanto
20.04.2009

Peta kota tak harus ditetapkan oleh monumen yang dibuat demi kelanggengan, melainkan juga oleh pengisi-pengisi ruang yang secara temporer muncul dan pergi. Kota pun sejak dulu dihiasi oleh tanda-tanda informal. Dari Yogyakarta, Mahatmanto, seorang arsitek, menuliskan amatannya.

Ronny Agustinus
01.07.2008

Selain menggolongkan lima jenis subversi, Ronny Agustinus membahas tentang hak paten yang merusak. Putaran Uruguay dan perjanjian-perjanjian WTO lainnya disetujui oleh Indonesia semasa rezim pemerintahan korup-diktatorial yang tidak dipilih rakyat, keabsahannya harus diragukan. Maukah kita terus menjadi “korban yang ikhlas”?